SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Kusdianto mengembangkan material komposit berbasis seng oksida (ZnO) sebagai solusi pengolahan limbah cair yang lebih ramah lingkungan. Teknologi berbasis fotokatalis tersebut dirancang untuk menguraikan polutan organik sekaligus membunuh bakteri tanpa menghasilkan limbah tambahan sehingga berpotensi diterapkan pada berbagai sektor industri.
Menurut Kusdianto, pencemaran air akibat limbah domestik dan industri masih menjadi tantangan karena metode pengolahan konvensional belum mampu menguraikan seluruh polutan organik secara optimal. Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mengembangkan material semikonduktor berbasis seng oksida yang bekerja melalui prinsip fotokatalisis dengan memanfaatkan energi cahaya untuk menghasilkan spesies oksidatif pengurai polutan.
Berbeda dengan metode konvensional yang memerlukan proses sintesis bertahap, penelitian ini memanfaatkan teknik flame spray pyrolysis dan spray pyrolysis sehingga partikel material berskala nano dapat diproduksi hanya dalam satu tahapan proses. Metode tersebut juga memberikan fleksibilitas dalam mengatur karakteristik material sesuai kebutuhan aplikasi.
Material utama yang digunakan adalah seng oksida (ZnO) yang disintesis melalui pendekatan green synthesis menggunakan ekstrak tumbuhan sebagai agen reduktor alami. Ketika dikombinasikan dengan perak (Ag) pada komposisi optimal, material komposit tersebut tidak hanya mampu mempercepat degradasi limbah organik, tetapi juga memiliki sifat antibakteri yang membantu menekan pencemaran mikrobiologis.
Selain diaplikasikan untuk pengolahan limbah cair, Kusdianto juga mengembangkan material tersebut sebagai filter adsorber gas pada sektor ketenagalistrikan. Sistem ini dirancang untuk menangkap emisi gas berbahaya seperti amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) dari operasional pembangkit listrik agar memenuhi baku mutu lingkungan.
Berdasarkan hasil pengujian lapangan menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi, teknologi tersebut mampu mencapai efisiensi degradasi polutan hingga 100 persen. Hasil tersebut mendorong ITS menyiapkan hilirisasi teknologi untuk pengolahan limbah amonia di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) serta limbah zat warna pada industri tekstil.
Dalam pengembangan risetnya, Kusdianto juga menjalin kolaborasi dengan Hiroshima University, Jepang, untuk mengembangkan fabrikasi material komposit melalui metode one-step process sebagai bagian dari upaya memperkuat riset ITS menuju World Class University. Ia menilai kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi kunci lahirnya teknologi tepat guna yang mampu menjawab tantangan lingkungan di masa depan. (feb, tama dini)












