SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai tantangan terbesar industri kreatif saat ini bukan lagi sekadar melahirkan pengusaha baru, tetapi membangun ekosistem yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk pesatnya pemanfaatan artificial intelligence (AI). Hal tersebut disampaikan Emil saat membuka IdeaFest SUB 2026 di Grand City Convex Surabaya, Jumat (7/8).
Menurutnya, Jawa Timur memiliki sejarah panjang melahirkan perusahaan-perusahaan besar yang berkembang hingga tingkat nasional bahkan internasional. Namun, capaian tersebut tidak boleh berhenti menjadi cerita masa lalu tanpa adanya regenerasi. “Yang harus dibangun dalam regenerasi bukan hanya pengusahanya, tetapi juga komunitasnya. Karena pada hakikatnya jiwa entrepreneurship dan inovasi itu tumbuh dari komunitasnya. Semakin inovatif komunitasnya, semakin terdorong juga para pengusahanya untuk berinovasi. Maka kita perlu membangun sebuah ekosistem,” ujarnya.
Ia menilai penyelenggaraan IdeaFest SUB menjadi bukti bahwa Jawa Timur telah memiliki fondasi ekosistem kreatif yang terus berkembang. Hal itu tercermin dari peningkatan jumlah pembicara dan sesi dibandingkan tahun sebelumnya. “Tahun lalu ada sekitar 100 pembicara dalam 80 sesi. Tahun ini meningkat menjadi lebih dari 200 pembicara dengan sekitar 120 sesi. Ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan dan menunjukkan ekosistem kreatif di Jawa Timur terus bertumbuh,” katanya.
Mengusung tema The Next Leap, Emil menilai tema tersebut sangat relevan dengan perkembangan dunia saat ini yang bergerak sangat cepat. Menurutnya, masyarakat tidak lagi cukup berkembang secara bertahap, tetapi dituntut mampu melakukan lompatan untuk mengikuti perubahan teknologi.
Salah satu perubahan paling besar, kata Emil, adalah perkembangan AI yang mengubah lanskap dunia kerja. Jika sebelumnya otomatisasi diprediksi menggantikan pekerjaan manual, kini profesi-profesi white collar juga mulai menghadapi tantangan serupa. “AI mengubah pandangan kita. Pekerjaan white collar sekarang juga mulai menghadapi ancaman. Pekerjaan yang biasanya ditangani lulusan-lulusan baru kini sudah bisa dikerjakan oleh Large Language Model seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan lainnya. Ini menjadi tantangan yang sangat fundamental,” ungkapnya.
Emil mencontohkan program Millennial Job Center (MJC) yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 2019 sebagai upaya mempertemukan talenta digital dengan pelaku UMKM melalui konsep gig economy. Menurutnya, perkembangan AI membuat ekosistem tersebut juga harus terus beradaptasi. “Dulu kita mempertemukan UMKM dengan talenta digital. Hari ini AI sudah mampu mengerjakan sebagian pekerjaan itu. Karena itu kita harus terus melakukan lompatan berikutnya agar tetap relevan,” lanjutnya.
Usai mengisi salah satu sesi diskusi bersama istrinya, Arumi Bachsin, Emil kembali menegaskan bahwa IdeaFest bukan sekadar ruang untuk membangun bisnis, melainkan menjadi tempat lahirnya jejaring dan kolaborasi yang memperkuat ekosistem kreatif di Jawa Timur. “Ini bukan sekadar bisnis, tetapi saya melihat ini sebagai ekosistem yang lengkap. Ketika anak-anak muda diberi kesempatan mengikuti kelas-kelas seperti ini dengan pembicara dari berbagai latar belakang, ternyata antusiasmenya luar biasa. Event seperti ini sangat baik untuk membangun ekosistem di Jawa Timur,” tambahnya.
Menurut Emil, konsep kelas dengan jumlah peserta yang tidak terlalu besar menjadi keunggulan IdeaFest karena memungkinkan peserta berdiskusi langsung dengan para pembicara setelah sesi berakhir. “Setelah selesai classroom, peserta bisa langsung menyampaikan ide, bertanya lebih lanjut, bahkan berkenalan dan membangun jejaring untuk ke depannya. Hal-hal seperti inilah yang membangun ekosistem,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Emil dan Arumi juga berbagi pandangan mengenai membangun usaha bersama pasangan atau couplepreneur. Emil mengatakan komunikasi terbuka menjadi fondasi utama, terutama dalam mengelola keuangan keluarga. “Kalau saya sama istri baru sebatas membicarakan investasi dan perencanaan keuangan keluarga. Karena menteri keuangannya kan istri,” ujarnya sambil berseloroh.
Sementara itu, Arumi menilai pasangan yang menjalankan bisnis bersama harus mampu memisahkan hubungan profesional dan hubungan sebagai suami istri agar komunikasi tetap berjalan sehat. “Ketika berbicara soal bisnis, kita harus bisa membedakan perspektif profesional dan perspektif sebagai pasangan. Kalau couplepreneur bisa bekerja bersama dengan baik, mereka akan sangat kuat. Dalam bisnis, yang paling sulit dicari adalah orang yang benar-benar bisa dipercaya, dan pasangan adalah orang terdekat yang kita miliki,” katanya.
Sementara itu, Co-Founder IdeaFest Ben Soebiakto menilai Surabaya memiliki modal besar untuk kembali melahirkan perusahaan-perusahaan nasional. Menurutnya, kemajuan teknologi, media sosial, serta semangat generasi muda menjadi peluang bagi Jawa Timur untuk menciptakan lompatan baru dalam dunia usaha. “Saya berharap dari Surabaya akan lahir ledakan-ledakan baru yang mampu mengubah ekonomi nasional. Anak-anak mudanya punya semangat luar biasa, tinggal bagaimana ekosistemnya terus diperkuat bersama,” ujarnya.
Senada dengan itu, Festival Director IdeaFest Surabaya Saskia Tessy mengatakan penyelenggaraan IdeaFest SUB 2026 merupakan hasil kolaborasi berbagai komunitas kreatif di Jawa Timur. Peningkatan jumlah pembicara dan sesi menjadi bukti semakin besarnya antusiasme masyarakat terhadap perkembangan ekonomi kreatif. “Kalau tahun lalu kami mengangkat tema The Rise of Local Heroes, tahun ini kami hadir dengan The Next Leap. Ini bukan hanya judul festival, tetapi sebuah ajakan agar kita semua di Jawa Timur berani melompat bersama dan membawa dampak positif bagi kota maupun provinsi yang kita cintai,” ujarnya.
IdeaFest SUB 2026 berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 di Grand City Convex Surabaya dengan menghadirkan lebih dari 200 pembicara dan sekitar 120 sesi diskusi yang membahas kewirausahaan, teknologi, bisnis, ekonomi kreatif, kepemimpinan, hingga pengembangan diri. Melalui penyelenggaraan tersebut, IdeaFest diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang memperkuat ekosistem kreatif sekaligus mendorong lahirnya inovasi baru dari Jawa Timur. (feb, tama dini)












