JAKARTA (Suarapubliknews) ~ Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi awak kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro. Setelah berhasil melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis sekaligus berisiko di dunia, para kru akhirnya kembali ke Indonesia dengan selamat usai menjalankan tugas menjaga distribusi energi nasional.
Second Officer kapal VLCC Pertamina Pride, Rizqi Rafif mengaku lega setelah berhasil meninggalkan kawasan Teluk Arab. Bersama 22 awak kapal lainnya, Pertamina Pride melintasi Selat Hormuz pada 8 Juli 2026 dan tiba dengan selamat di perairan Cilacap pada 24 Juli. “We are happy to be finally out of Hormuz,” ujarnya saat disambut jajaran manajemen PT Pertamina International Shipping (PIS).
Sementara itu, awak kapal Gamsunoro juga membagikan pengalaman serupa. Third Officer Gamsunoro, Daryl Josua Makaminang, mengatakan situasi perang di kawasan sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan kru.
Saat melintasi jalur selatan Selat Hormuz, kapal bahkan mendapat pengawalan dari Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Sehari setelah kapal berhasil melewati kawasan tersebut, terjadi serangan terhadap kapal lain di lokasi yang sama. “Kami tentu cukup khawatir dengan situasi perang saat itu. Syukur kami dapat melewati Selat Hormuz dengan selamat,” katanya.
Selain ancaman konflik, para kru juga menghadapi tantangan teknis selama pelayaran. Rizqi mengungkapkan sistem navigasi GPS sempat mengalami gangguan (jamming) sehingga seluruh tim harus meningkatkan kewaspadaan dalam menentukan jalur pelayaran di tengah kondisi yang terus berubah.
“Kami sempat khawatir. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan harus mengikuti pihak yang mana. GPS juga mengalami jamming. Bisa dibilang kami sangat beruntung dapat melewati semuanya dengan selamat,” ungkapnya.
Direktur Utama PT Pertamina International Shipping Surya Tri Harto mengapresiasi profesionalisme seluruh awak kapal yang mampu menjalankan tugas dengan tenang di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.
“Keberhasilan ini bukan hanya soal disiplin operasional, tetapi juga tentang kemanusiaan. Sejak kapal memasuki kawasan Teluk, kami terus memantau perkembangan kondisi para kru. Keselamatan seluruh awak kapal selalu menjadi prioritas utama kami, bahkan sebelum kargo dan aktivitas operasional,” ujarnya.
Komisaris Utama PT Pertamina International Shipping Anwar Saadi turut menyampaikan rasa syukur karena seluruh kru Pertamina Pride maupun Gamsunoro berhasil kembali dalam keadaan sehat. Ia juga mengapresiasi dedikasi para nakhoda dan awak kapal yang tetap menjaga keselamatan kapal, kru, serta muatan selama melintasi kawasan berisiko tinggi tersebut.
Setelah menyelesaikan pelayaran di kawasan Teluk, kedua kapal kini menjalani proses pemulihan performa armada sebelum kembali beroperasi. MT Gamsunoro telah menjalani hull cleaning untuk meningkatkan performa pelayaran, sementara Pertamina Pride melakukan underwater hull cleaning sebagai bagian dari persiapan menghadapi penugasan berikutnya.
Bagi para awak kapal, keberhasilan melintasi Selat Hormuz bukan sekadar menyelesaikan sebuah rute pelayaran. Perjalanan tersebut menjadi gambaran ketangguhan, keberanian, dan profesionalisme insan maritim Indonesia yang tetap menjalankan tugas menjaga distribusi energi nasional di tengah situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian. (feb, tama dini)












