Bank Indonesia Optimis Indonesia Terhindar dari Resesi Ekonomi

JAKARTA (Suarapubliknews) – Bank Indonesia optimistis Indonesia bisa terhindar dari resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi via Youtube Channel Bank Indonesia.

Bukan tanpa alasan karena dalam memproyeksi perhitungan pertumbuhan ekonomi, pihaknya telah mempertimbangkan kondisi di dalam negeri hingga kondisi global. Menurutnya bank sentral telah memperkirakan periode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hanya berlangsung selama 2,5 bulan hingga pertengahan Juni mendatang.

“Waktu membuat proyeksi ekonomi kami sudah memperkirakan bahwa Periode PSBB yang ketat itu memang cuma 2,5 bulan. Setelah itu secara bertahap dibuka sedikit-sedikit sampai kemudian dalam waktu triwulan II,” katanya,

Dari situ, bank sentral memasang target ekonomi RI bisa tumbuh 2,3 persen hingga akhir tahun. Namun target itu bisa saja berubah mengingat pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I-2020 hanya 2,97 persen.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 mendatang akan lebih tertekan dibanding kuartal I-2020. Namun pada kuartal III dan kuartal IV, pertumbuhan akan berangsur naik. “Harapannya bisa mendekati 2,3 persen. Tapi tentu saja kami harus lihat lagi berbagai indikator pada waktunya,” papar Perry.

Adapun skenario berat merupakan hasil pembahasan bersama antara BI, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dan Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah.

Saat itu, BI mengumpulkan data dan beragam informasi, salah satunya dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang disampaikan Sri Mulyani. “Berdasarkan info dari satgas diperkirakan memang puncak covid-19 mencapai Juni-Juli. Sebelumnya masa darurat 29 Mei. Itu mendasari skenario berat, yang menghasilkan 2,3 persen pertumbuhan 2020,” pungkasnya.

Selain itu BI juga mencatat aliran modal asing kembali masuk atau new inflow pada pekan pertama Juni 2020. “Minggu ke satu bulan Juni Rp7,01 triliun. Kalau angka ini menunjukan aliran modal asing masuk yang terus membaik,” paparnya.

Mei 2020 lalu sudah tercatat pergerakan modal cukup besar. Pekan kedua Mei 2020 ada aliran modal masuk Rp2,97 triliun, pekan ketiga Rp6,15 triliun, dan pekan keempat senilai Rp2,5 triliun.

“Artinya saya sampaikan dalam minggu lalu bahwa kepercayaan investor asing terhadap kondisi ekonomi Indonesia semakin lama semakin baik dan itu terbukti dari aliran modal asing masuk khususnya ke SBN,” lanjut Perry.

Imbas masuknya aliran modal asing ini terlihat dari penguatan rupiah yang per Jumat (5/6/2020) ini mencapai Rp13.900 per dolar AS. Efeknya juga terasa pada semakin kecilnya intervensi BI untuk membantu pemenuhan target penerbitan SBN pemerintah lantaran pasar sudah bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan defisit APBN.

Ia juga memastikan dampaknya akan terasa pada posisi cadangan devisa di awal Juni 2020. Meski demikian, Ia mengaku belum dapat membeberkan berapa kisaran cadangan devisa saat ini. Yang pasti nilainya akan lebih besar dari periode sebelumnya.

“Aliran modal asing masuk Cadev kita terus mengalami peningkatan. Tunggu Senin (8/6/2020) saya akan rilis publikasinya tapi lebih tinggi dari akhir bulan Mei 2020,” tutup Perry. (q cox, tama dinie)

Reply