Berhasil Jadi Penyintas Covid-19, Ini Testimoni dan Pesan Cawawali Armuji ke Warga

SURABAYA (Suarapublikews) – Sejak dinyatakan positif dari virus corona hingga harus terpapar di Ruang ICU RSUD dr Soetomo Surabaya bulan lalu, Calon Wakil Wali Kota Surabaya terpilih, Armuji berhasil melewati ujian dan telah dinyatakan sembuh.

Menurut Armuji, kekuatan doa, dukungan keluarga, dukungan dokter dan para perawat yang merawat, membuat dirinya tetap semangat berjuang keras untuk melawan ganasnya Covid-19 tak pernah patah.

Kepada media ini, pria 55 tahun ini bercerita banyak tentang pengalaman saat-saat melawan corona disela-sela aktivitas rutin berkebun dan berolah raga ringan yang tidak pernah ditinggalkan.

Bahkan isu kejam dari orang-orang tak bertanggungjawab yang mengabarkan jika politisi PDI Perjuangan ini meninggal dunia karena covid, sempat membuat shock keluarga besar yang jauh di luar tempat tinggalnya.

Kini setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19, kepada masyarakat Surabaya, Cak Ji-sapaan akrabnya, berpesan agar jangan menganggap enteng corona. Waspada dan waspada harus selalu menjadi prioritas masing-masing individu. Sebab, tak akan tahu siapa diantara orang-orang yang ditemui itu telah membawa virus yang tak kasat mata tersebut.

“Bisa saja orang yang kita jumpai itu orang tanpa gejala atau OTG. Kita tidak tahu. Karena memang mereka yang OTG, tidak menunjukkan gejala-gejala apapun. Tahunya dia sehat. Saya nggak panas, nggak kehilangan rasa, buktinya terpapar,” ujar Cak Ji santai usai memetik buah jambu hasil kebun.

Setelah hampir tiga minggu di rumah full untuk mengembalikan kondisi kesehatan, Cak Ji juga masih harus menunggu dua kali Swab PCR dan dinyatakan negatif, Cak Ji harus menunjukkan kepada keluarganya bahwa virus ini bisa dilawan.

“Sing penting gak oleh cilik ati (yang penting jangan berkecil hati). Semangat terus dan tak berhenti berdoa kalau corona bisa disembuhkan. Keluarga, lebih-lebih perawat yang memberikan semangat saya untuk sembuh berlipat,” kenangnya.

Mantan Ketua DPRD Surabaya dua periode ini mengaku sangat-sangat berterima kasih kepada dokter-dokter dan perawat yang selama ini telah membantu kesembuhannya ketika masih berada di ICU.

“Dua minggu persis saya hanya berbaring di ICU. Bahkan, saya tidak sadarkan diri. Dukungan istri dan ketiga anaknya saya ini yang membuat saya, Alhamdullilah bisa sembuh,” selorohnya.

Cak Ji baru ingat, pasca dinyatakan suara dalam Pilwali 2020 pada bulan Desember unggul dari lawannya, dia tak pernah menolak ajakan dan undangan rekan dan kolega untuk mengucapkan rasa syukur hanya dengan makan-makan di dalam ruangan maupaun rumah makan.

Pada saat kondisi berkerumun dan saling berhadapan dengan posisi tanpa masker, ia menduga itu awal mula corona datang. Hanya dalam hitungan hari, Cak Ji dihantan sesak napas berat.

“Saya tidak panas. Suhu badan biasa. Juga tidak ada mati rasa pada lidah. Sesak hebat ini yang merasa saya kena corona,” jlentrehnya.

Keluarga pun mengantarkan Cak Ji untuk melakukan tes Swab PCR. Dari situlah ia baru sadar kalau dinyatakan positif Covid-19. Karena kondisinya semakin drop, keluarga membawanya ke rumah sakit.

“Saya sempat tidak sadar. Begitu mulai sadar, saya terus bersemangat untuk sembuh. Saya juga ikuti semua saran dokter. Saya diminta bahagia dan tidak cemas atau panik,” sambung mantan Ketua Umum Asosiasi Dewan Kota Se-Indonesia ini.

Untuk itu, ia mengingatkan kepada warga Surabaya untuk selalu mengenakan masker dan jangan sekali-kali makan bersama sambil ngobrol. Terutama makan di ruangan yang ber-AC, itu sangat rentan.Ternyata benar. Motivasi kuat dan perasaan rileks tanpa takut yang membangun imun bisa meningkat.

“Yang paling penting, jangan pernah berpikir yang belum tentu terjadi. Hadapi penuh keyakinan pasti sembuh,” ucapnya.

Cak Ji saat ini sudah terlihat bugar, kendati ada sisa-sisa batuk yang menemani dan harus dipulihkan. “Saya sudah tidak sabar kepingin segera mendonorkan plasma konvaselen. Hanya dengan plasma ini yang bisa menyelematkan jiwa orang lain,”

Dia meyakini bahwa pandemi ini hanya bisa diatasi bersama-sama dan setiap komponen masyarakat harus mau berkorban dan mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi/golongan.

“Perjuangan melawan COVID ini masih panjang. Tentang plasma konvalesen memang perlu digalakkan dan dihimbau agar penyintas ikhlas mendonorkan plasmanya. Karena plasma konvalesen ini mungkin akan bermanfaat kalau pemberiannya tepat waktu. Kalau sudah dalam kondisi kekurangan oksigen berat, plasma konvalesen ini tidak ada manfaatnya,” terangnya.

Cak Ji menceritakan, kadang kala orang justru sibuk mencari plasma padahal sudah kekurangan oksigen. “Kalau sudah kekurangan oksigen obatnya adalah mencukupi oksigen tersebut dan harus dirawat di RS bahkan ICU, karena kalau kurang oksigen tidak ditangani dengan baik maka organ2 tubuh pasti akan rusak satu per satu. Perlunya kita memberi edukasi masyarakat yang seimbang,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Cak Ji juga mengatakanjika pemberitaan yang tidak tepat tentang suatu terapi COVID bisa berakibat fatal, karena bisa menimbulkan asumsi atau kepercayaan bahwa ada OBAT DEWA untuk menyembuhkan COVID.

Padahal, kata dia, sampai saat ini semua masih belum ada yang jelas tentang terapi COVID ini. Sistim imun pasien lebih memegang peran dalam penyakit COVID ini. Pada kasus COVID yang berat justru perawatan yang baik selama sakit memegang peranan penting.

“Sehingga kecukupan dokter, perawat, peralatan medis baik untuk terapi dan diagnostik serta sistim pelayanan yang baik lebih memegang peranan penting,” pungkasnya. (q cox

Reply