Berpotensi Namun Ekonomi Syariah Di Tanah Air Masih Tertinggal

SURABAYA (Suarapubliknews) – Meski jumlah muslim Indonesia terbesar dunia, ternyata, ekonomi dan lembaga keuangan syariah di tanah air masih tertinggal. Padahal, potensi itu terbuka lebar serta bisa menjadi penopang pembangunan dan ini seharusnya menjadikan Indonesia sebagai sentra usaha produk halal di dunia.

Hal tersebut disampaikan Deputi Perwakilan BI Jatim, Rizky Ernadi Wimanda saat Media Briefing Virtual Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa Tahun 2022. “Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tentu saja ini seharusnya bisa menjadi potensi. Selama ini, produk seperti fashion dan kuliner masih didominasi negara asing,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan, produk yang memiliki konsumsi tinggi masih terus menjadi potensi usaha ke depan. Sehingga masyarakat bisa memanfaatkan potensi ini untuk memutar roda ekonomi lebih baik lagi di masa mendatang. “Di sektor makanan halal, misalnya, kita (Indonesia) masih menjadi target pasar pertama. Kita belum bisa menjadi produsen utama,” katanya.

Kendati begitu, Ia optimis Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia. Menurutnya, potensi itu sangat besar, di mana saat ini produk makanan halal mengalami pertumbuhan signifikan. “Periode tahun ini, kita bisa mempertahankan posisi keempat dunia. Khusus halal food, Indonesia menempati urutan kedua setelah Malaysia,” tegasnya.

Negara pengekspor makanan halal terbesar ke negara — yang tergabung dalam OIC (Organisasi of Islam Cooperation) — masih dipimpin Brazil, dengan angka USD 16,2 miliar. Ada kompetIsi antarnegara.

Ini pertanda, ekonomi syariah juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia. Brazil, sampai kini belum tergeser dalam penguasaan  ekspor daging unggas halal ke Timur Tengah. Begitu juga Australia dengan daging sapi halalnya.

BI merinci lima kunci sukses, agar Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah terkemuka dunia. Pertama, adanya dukungan penuh pemerintah. Kedua, target tersebut menjadi program nasional.

Ketiga, perlunya badan khusus untuk koordinasi lintas otoritas. Keempat, fokus memanfaatkan keunggulan kompetitif. Dan, kelima perlunya strategi nasional yang mencakup reformasi struktural pemerintah sekaligus paradigma masyarakat luas.

Faktanya, lonjakan pertumbuhan penduduk (muda) muslim serta pertumbuhan ekonomi syariah yang tinggi di negeri ini, jelas akan mendorong terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah terkemuka di dunia.

BI mematri pentingnya dalam pengembangan ekonomi syariah. Itu jabarkan dengan istilah AIR.  Pertama, akselerasi (A), mendorong percepatan program ekonomi dan keuangan syariah . Kedua, inovasi (I), memprakarsai terobosan program pengembangan. Ketiga, regulasi (R) merumuskan dan menerbitkan ketentutan.

Oleh karenanya BI KPw Jawa Timur kembali menggelar Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2022 yang berlangsung  mulai Kamis (8/9) sampai Sabtu (10/9/2022) di Atrium Tunjungan Plaza (TP) 3 dan 6 Surabaya mengangkat tema ‘Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk Memperkuat Pemulihan Ekonomi Jawa yang Inklusif’. (Q cox, tama dini)

Reply