BI Optimis Ekonomi Indonesia Pulih, Ini Strategi Yang Disiapkan

JAKARTA (Suarapubliknews) – Masa kritis perekonomian Indonesia akibat dampak pandemi Covid-19 telah terlewati. Hal itu berdasarkan beberapa indikator ekonomi Indonesia yang menunjukkan arah perbaikan.

Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2020 mengatakan BI optimis pemulihan ekonomi nasional pada tahun 2021 dapat terwujud dengan penguatan sinergi melalui satu prasyarat dan lima strategi.

“Selama 9 bulan kita telah berjuang melawan covid-19, Alhamdullilah masa kritis telah berlalu, Episentrum krisis kita kali ini adalah pandemi Covid-19. Karenanya vaksinasi dan disiplin protokol kesehatan sangatlah penting untuk menjaga kesehatan,” katanya.

Perbaikan ekonomi terjadi sejalan dengan sinergi yang kuat antara berbagai otoritas kebijakan. Kondisi itu membuat stabilitas perekonomian nasional dapat terjaga dengan baik. Menurutnya, sinergisitas itu perlu diperkuat lagi dalam rangka membangun optimisme agar ekonomi lebih baik ke depan menuju Indonesia maju.

BI optimistis perekonomian Indonesia semakin membaik pada kuartal IV/2020 dan akan kembali positif pada kisaran pertumbuhan 4,8% hingga 5,8% pada 2021. Hal itu juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi di seluruh daerah yang terus meningkat.

Disebutkan, pemulihan ekonomi ke depan akan didukung oleh kenaikan ekspor dengan perbaikan ekonomi global, konsumsi dengan stimulus belanja sosial dari pemerintah, investasi dengan stimulus belanja modal, dan investasi swasta dengan UU Cipta Kerja, serta meningkatnya mobilitas manusia dengan adanya vaksinasi.

Sementara, untuk perekonomia global, juga terus menunjukkan perbaikan. Hal itu terlihat dari perekonomian Tiongkok dan AS yang semakin membaik didukung oleh stimulus fiskal dan moneter yang meningkat, membaiknya mobilitas masyarakat, dan aktivitas perekonomian.

Ketidakpastian pasar keuangan global juga mereda. Hal itu tercermin dari aliran modal asing yang kembali masuk ke negara emerging market. Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berkurang berkat melimpahnya likuiditas global dan kebijakan suku bunga rendah yang diterapkan negara maju.

Pada kesempatan yang sama, Presiden RI, Joko Widodo, menekankan bahwa momentum pertumbuhan positif ini harus dijaga. Pelaksanaan protokol kesehatan harus terus dilakukan dengan disiplin dan terus waspada serta tidak lengah agar tidak ada gelombang kedua pandemi yang akan merugikan upaya dan pengorbanan yang telah dilakukan. (q cox, tama dinie)

Reply