BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Jatim Terkontraksi Sedikit Sebagai Dampak PPKM

BATU, MALANG (Suarapubliknews) –  Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur (BI Jatim) memprediksi pertumbuhan ekonomi Jatim pada kuartal III tahun bakal terkontraksi sedikit sebagai dampak dari adanya PPKM Darurat sejak awal Juli 2021.

Kepala BI Jatim, Budi Hanoto mengatakan pada kuartal II/2021 pertumbuhan ekonomi Jatim sudah menunjukkan pertumbuhan positif dan cukup tinggi mencapai 7,05 persen. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya sektor-sektor usaha, termasuk penyerapan anggaran belanja pemerintah atau APBD yang mampu mendorong perekonomian.

“Lalu pada kuartal II dari April, Mei, Juni memang belum ada PPKM Darurat sehingga masih tumbuh, dan saat itu juga gencar vaksinasi, serta consumer confidence meningkat,” katanya saat Media Briefing dan perkenalan dengan media.

Selain itu, tingkat permintaan pasar ekspor seperti Amerika Serikat dan China cukup tinggi untuk mendatangkan produk dari Indonesia. Hal ini disebabkan oleh membaiknya pasar luar negeri karena penanganan Covid-19 yang lebih cepat, termasuk dalam memberikan vaksin kepada warganya.

Sementara untuk kuartal III/2021, BI memperkirakan ada sedikit penurunan akibat adanya PPKM, meskipun di akhir Agustus ini sudah turun menjadi PPKM Level 3 dari sebelumnya PPKM Level 4.  Namun, lanjut Budi, pada kuartal IV/2021 ekonomi Jatim diyakini bisa tumbuh lebih baik, sebab dari sisi pengeluaran biasanya terdapat proyek-proyek dari anggaran pemerintah dikejar di akhir tahun.

“Untuk September nanti [kuartal III], mungkin turun tapi tidak tajam, landai, dan di ujung tahun Insya Allah pasti tetap positif. Faktor pendorongnya macam-macam, dari vaksinsi di Jatim yang mulai merata, daya beli masyarakat dan pengeluaran pemerintah di ujung tahun itu banyak, jadi faktor ekonomi lebih baik, tetapi angkanya masih kami re-kalkulasi lagi,” lanjut Budi yang sebelumnya merupakan Kepala BI Sulawesi Selatan itu.

Optimisme pertumbuhan ekonomi Jatim juga dipengaruhi oleh berbagai potensi yang ada, baik sektor pariwisata, budaya hingga UMKM. “Size ekonomi Jatim terbesar setelah DKI Jakarta, sehingga tantangannya juga besar. Lalu di Jatim itu sumber potensinya ada dari ekonomi kreatif, ekonomi rakyat kecil yang menurut kami akan terus kami gerakkan hingga ke pelosok melalui UMKM, keuangan syariah, pesantren,” tambahnya.

Kepala BI Jatim periode 2017-2020, Difi Ahmad Johansyah menambahkan BI sejak awal memiliki cita-cita ingin menjadikan Jatim sebagai daerah wisata yang diyakini berdampak terhadap sektor terkecil seperti UMKM.

“Kami ingin Jatim menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kreatif, termasuk animasi, pariwisata hingga industri dasar seperti kuliner dan produk oleh-oleh. Peluangnya sangat besar karena jalan tol Jakarta – Bali, apalagi orang-orang kita senang jalan-jalan, dan memang yang paling cepat bisa dijual adalah jasa pariwisata, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat,” katanya. (q cox, tama dinie)

Reply