Datangkan Siswa ke Sekolah, SMKN 6 Surabaya Uji Coba Belajar Mengajar Tatap Muka

SURABAYA (Suarapubliknews) – Sejak 1 September 2020, SMK Negeri 6 Surabaya melaksanakan uji coba belajar mengajar melalui tatap muka di sekolah. Dalam uji coba tersebut, pihak sekolah menghadirkan sebagian siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Dengan mengenakan masker, para siswa maupun guru di SMK Negeri 6 Surabaya dilakukan pengecekan suhu tubuh sebelum masuk ke area sekolah. Cuci tangan pun wajib dilakukan sebelum mereka masuk ke kelas.

Istiowati, Wakil Kepala (Waka) Kesiswaan SMK Negeri 6 Surabaya mengatakan, berdasarkan ketentuan, bagi setiap siswa yang akan mengikuti uji coba belajar mengajar tatap muka di sekolah wajib menunjukkan surat izin dari orang tua.

“Masih uji coba, untuk protokol kesehatannya siswa membawa surat keterangan sehat dari orang tua dan diizinkan masuk,” kata Istiowati kepada awak media di SMK Negeri 6 Surabaya, Kamis (10/9/2020).

Selain itu, kata dia, para siswa maupun guru sebelum diizinkan masuk area sekolah juga wajib dites suhu tubuh menggunakan thermo gun. Tak lupa, mereka juga wajib menggunakan masker, face shield dan cuci tangan sebelum masuk ke kelas.

“Untuk jumlahnya 25 persen dari jumlah kelas. Jadi satu kelas itu 36, ada sembilan (siswa) per kelas, bergilir gantian. Jadi satu anak itu masuk satu bulan sekali ketemu gurunya. Setiap hari Senin sampai Jum’at, jumlahnya bergantian, ruangnya bergantian,” ujar Istiowati.

Istiowati menyebut, setelah kelas itu dipakai untuk kegiatan belajar mengajar, pihaknya kemudian melakukan penyemprotan disinfektan. Tujuannya agar kelas itu tetap steril.

“Setelah dipakai disemprot, baru nanti dipakai lagi untuk besok. Tapi kadang ruangan ada yang tidak dipakai. Siswa mulai praktik dan yang teori itu sains,” tambahnya.

Sementara menanggapi uji coba sekolah tatap muka yang sudah diberlakukan sejak 1 September 2020 oleh pihak sekolah, para siswa mengaku senang. Pasalnya, mereka dapat kembali bersekolah dan mengikuti pelajaran praktik yang tidak bisa dilakukan di rumah.

“Kalau dibilang jujur jenuh (belajar di rumah), karena sangat membosankan seperti itu. Menurut saya bagus (sekolah tatap muka). Jadi kita bisa belajar langsung gitu, (asalkan jaga jarak?) iya,” kata Rahmadia, siswi Kelas XI Jurusan Jasa Boga II, SMKN 6 Surabaya.

Senada dengan Rahmadia, pelajar lain adalah Rahma Dewi juga menyatakan hal yang sama. Menurut dia, lebih menyenangkan belajar di sekolah dari pada di rumah melalui daring.

“Menurut saya lebih menyenangkan (di sekolah) daripada belajar di rumah dan bisa mengetahui ilmu pelajaran lebih baik dari pada lewat online,” kata dia.

Bahkan, siswi berkerudung ini juga mengaku bosan dan jenuh ketika harus mengikuti belajar dari rumah. Pasalnya, ia terkadang tidak paham dengan pelajaran yang diberikan oleh guru. “Bosan, sedikit tidak paham sama penjelasan, terus tidak pernah praktik jadi tidak punya pengalaman,” terangnya.

Sebagai informasi, SMK Negeri 6 Surabaya memiliki total jumlah siswa sebanyak 2.413 anak. Dari jumlah tersebut, diatur dalam rombongan belajar (rombel). Setiap hari, ada 15 rombel dari 8 jurusan yang ada. Dimana setiap rombel itu terdiri dari sembilan orang siswa.

Sedangkan uji coba kegiatan belajar mengajar di sekolah diadakan setiap hari Senin sampai Jum’at diikuti oleh para siswa secara bergantian mulai pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB, tanpa ada jam istirahat. (q cox, And)

  Istiowati Wakil Kepala Kesiswaan

Reply