Di Konferensi Virtual Lembaga PBB, Wagub Emil Berbagi Pengalaman soal Ekosistem Kelautan

SURABAYA (Suarapubliknews) – Pemprov Jawa Timur berkomitmen mewujudkan tujuan ke-14 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) yaitu terjaganya ekosistem kelautan.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak saat berbagi pengalaman provinsi Jawa Timur dalam mengelola ekosistem kelautan pada UN Ocean Conference, sebuah konferensi yang diselenggarakan secara virtual oleh lembaga PBB UN-DESA (United Nations Department of Economic and Social Affairs).

“Luas lautan Jatim Timur lebih besar dari luas daratan, dimana Jatim memiliki garis pantai sepanjang 3.498km dan luas lautan sebesar 54.718km2, serta keberadaan 427 pulau. Untuk itu, Pemprov Jatim berkomitmen menjalankan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil agar pengelolaan ekosistem laut untuk tujuan pariwisata, pelabuhan, penambangan, perikanan, energi, industri dan kebandaraan terlaksana dengan keberlanjutan ekosistem lingkungan hidup laut,” paparnya.

Gubernur Jatim juga telah menerbitkan SE Gubernur no.360/765/208.1/2019 tentang himbauan bebas kemasan plastik, dengan harapan ribuan ton sampah plastik yang dihasilkan setiap harinya di Jatim dapat direduksi secara signifikan.

Emil menyampaikan pentingnya kesinambungan hulu hilir, dimana ekosistem laut harus dikelola terpadu dengan ekosistem sungai. Ilustrasi pengelolaan Sungai Brantas, dimana lebih dari 40 persen penduduk Jatim berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, dan terdapat kerawanan polusi di sungai tersebut.

Di awal masa jabatan Khofifah-Emil, salah satu langkah awal yang dilakukan adalah program Adopsi Sungai Brantas dimana penanganan sampah popok serta penandatanganan MoU dengan industri di sepanjang Brantas menjadi bagian dari program 99 hari pertama.

Emil yang pernah menjadi Co-President United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pacific periode 2016-2018, turut menyampaikan komitmen Pemprov Jatim mendukung proyek percontohan Closing The Loop yang merupakan kolaborasi UCLG Asia Pacific dengan ASEAN dan Lembaga PBB UN ECOSOC, dimana ibukota Jatim, Surabaya menjadi salah satu dari 4 kota di ASEAN yang turut menjadi lokasi proyek percontohan. “

Closing the Loop akan menekankan kesinambungan penanganan limbah plastik (waste value chain) dengan melibatkan industri penghasil limbah plastik dalam melakukan penanganan limbah plastic,” papar Emil.

Selain masalah limbah plastik, Emil turut menekankan komitmen Pemprov Jatim dengan menjaga ekosistem pesisir, termasuk melalui restorasi habitat ikan dan penanganan perikanan ilegal yang turut menjadi komitmen bersama pada Council Meeting Lembaga perikanan Asia Tenggara (South East Asian Fisheries Development Center/SEAFDEC) yang diselenggarakan dengan Jawa Timur sebagai tuan rumah pada tahun 2019 yang turut menghadirkan Wagub Jatim sebagai pembicara. (q cox, tama dinie)

Reply