Dinilai Tak Beretika, Pimpinan Komisi B DPRD Surabaya Tegur Anggota dari PSI

SURABAYA (Suarapubliknews) – Wakil ketua Komisi B DPRD Surabaya Anas Karno menegur sikap anggotanya dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Alfian Limardi karena dinilai tidak beretika pada saat rapat pembahasan RAPBD Surabaya 2020.

“Saya sangat menyayangkan sikap Pak Alfian yang emosi dengan membuang draf APBD dihadapan Kepala Dinas Diskominfo (M. Fikser) saat pembahasan RAPBD kemarin (4/11/2019),” kata Anas Karno di Surabaya. Selasa (05/10/2019)

Menurut dia, jika ada kesalahan dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) RAPBD mestinya bisa dibicarakan secara baik-baik dan tidak langsung bertindak di luar kewajaran. Apalagi, lanjut dia, draf RAPBD dari Diskominfo sudah benar dan tidak ada masalah.

“Jadi kemarin itu, Pak Alfian menganggap ada PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10 persen yang tidak ditulis di RAK. Tapi itu sudah benar karena tidak semua harus ditulis di RAK. Jadi saat itu, kita sepakati sudah oke dan selesai. Tapi tiba-tiba Pak Alfian menilai salah, padahal tidak ngecek dan tidak tanya kenapa hasilnya seperti itu. Seharusnya kan bisa ditanya baik-baik,” katanya.

Mendapati hal itu, pimpinan Komisi B menegur Alfian agar bertindak sopan dan mengedepankan etika dalam pembahasan RAPBD. “Kami juga sudah melaporkan hal ini ke Ketua Fraksi PSI,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga menyesalkan staf Fraksi PSI yang selalu mengambil video atau vlog pada saat rapat di Komisi B. Hal ini, lanjut dia, kurang memberikan kebebasan bagi anggota Komisi B lainnya dan tentunya video tersebut bisa disalahartikan.

“Kami sudah minta untuk rapat selanjutnya tidak perlu ada yang mengambil video di Komisi B,” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya Mahfudz. Ia menyanyangkan sikap Alfian yang tidak mengedepankan etika pada saat pembahasan rapat pembahasan RAPBD. Apalagi Pemkot Surabaya merupakan mitra DPRD Surabaya.

“Alfian sudah ditegur orang banyak. Ini jadi pelajaran bersama agar itu tidak terulang kembali,” ujarnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Surabaya M. Fikser membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurut dia, kejadian tersebut cukup memalukan bagi anggota DPRD Surabaya yang merupakan mitra pemkot dalam pembahasan RAPBD.

“Selama ini kami tidak pernah diperlakukan seperti itu. Kalau misalnya ada kekurangan kan bisa ngomong secara baik-baik,” katanya.

Anggota Komisi B Alfian Limardi saat dikonfirmasi mengatakan bahwa persoalan dalam pembahasan RAPBD tersebut sudah selesai. Ia menjelaskan bahwa di RKA ada angka yang loncat sehingga otomatis dipertanyakan.

“Saat saya tanyakan mereka sempat kaget juga. Saya protes secara spontan. Wajar donk saya tanyakan selaku dewan, ini kan uang rakyat. Tapi uda dijelaskan dan clear. Untuk berikutnya kami meminta PPN-nya ditampilkan sehingga jelas,” katanya. (q cox)

Reply