Disperbun Pemkab Kediri Temukan Racun Tikus Ramah Lingkungan

KEDIRI (Suarapubliknews) – Banyaknya populasi tikus di wilayah Kabupaten Kediri saat musim panas seperti saat ini, membuat Dinas Pertanian dan Perkebunan (Disperbun) Kabupaten Kediri berinovasi membuat racun tikus ramah lingkungan.

Sahat Tua Pandjaitan, Kasi Perlindungan Tanaman dan Pengamanan Pangan Dipertabun, mengatakan, inovasi baru ini dibuat dari limbah sekam padi yang tidak terpakai.

“Penggunaannya dengan cara merendam sekam beberapa hari, lalu diambil airnya untuk dimasukkan ke dalam liang tikus dan di sekitar tanaman,” katanya. Selasa (29/09/2020)

Berdasarkan hasil dari uji laboratorium, air rendaman sekam tersebut mengandung unsur hara makro sekunder dengan kadar seperti Kandungan Ca (Calsium) 16,16 mg/L, Mg (Magnesium) 0,29 mg/L, dan Sulfur (Belerang) 884,76 mg/kg. Selain mengandung unsur hara Mikro yaitu Ferro (Besi) 10,39 mg/L, dan Mn (Mangan) 89,69 mg/L dan tingkat kemasaman (Ph) 3,76.

Sahat juga mengatakan, dengan penggunaan dan pengaplikasian air sekam tersebut, petani dapat kembali panen dan produksi jagung kembali nomal pada 2 musim tanam ini serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

“Kami juga sudah bekerjasama dengan Universitas Jember, pada bulan September 2020 dilakukan pengambilan sampel tanah untuk uji kandungan C-Organik hasil aplikasi asap cair sekam dan rendaman sabut kelapa. Hasilnya juga bagus,” katanya.

“Keberhasilan inovasi ini di wilayah Kecamatan Gurah pada lahan kering. Kemudian Dipertabun bekerjasama dengan PPL dan POPT Kec. Semen pada bulan September 2020 melakukan gerakan pengendalian hama tikus menggunakan asap cair sekam, disertai dengan pemasangan umpan beracun Petrocum 0,005 BB,” terusnya.

Untuk pengaplikasian, dosis yang digunakan 1 : 4, yaitu 220 ML asap cair sekam dan 880 ml rendaman sabut kelapa (sebagai katalis)/ 14 liter air. Larutan disemprotkan pada liang-liang tikus serta diikuti pemasangan umpan beracun berupa petrokum 0,005 BB.

“Dengan pengaplikasian ini diharapkan tikus yang ada di liang akan terganggu pernafasannya karena kandungan belerang. Inovasi ini akan terus dilakukan dan dikembangkan sampai menemukan formulasi yang tepat, tidak hanya pada lahan kering tetapi bisa juga diaplikasikan pada lahan basah,” pungkasnya.

Sementara itu menurut Omega Dwi Suprihanto, petugas PPL Kecamatan Semen, percobaan uji coba asap cair sekam ini sangat membantu para petani di wilayah binaannya, karena populasi tikus yang terus bertambah mengancam hasil pertanian terutama tanaman padi dan jagung.

“Dengan adanya uji coba sekam di wilayah kami, para petani merasa senang. Selain ramah lingkungan, bahan pembuatnya juga sangat melimpah di wilayah Kecamatan Semen,” kata Omega.

Untuk diketahui, temuan ini merupakan yang pertama di Indonesia, memanfaatkan sekam sebagai racun untuk membunuh hama tikus yang sangat meresahkan. (q cox, Iwan)

Reply