Fesyar 2019 Target Transaksi Rp2,86 Triliun

SURABAYA (Suarapubliknews) – Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Indonesia 2019 yang diprakarsai Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur dan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) menargetkan memperoleh transaksi sekitar Rp2,86 triliun.

Kepala BI Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan target tersebut lebih tinggi dibandingkan pelaksanaan di sejumlah daerah lain seperti Sumatera yang mencapai Rp2,2 triliun, di Banjarmasin Kalimantan Timur mencapai Rp2,5 triliun.

“Nah kami di Surabaya mengharapkan bisa lebih dari Rp2,86 triliun dan 2.000 pengunjung/hari, mengingat Jawa Timur ini potensinya besar apalagi banyak pesantren, dan pelaku usaha syariah lainnya,” katanya

Gelaran Festyar 2019 yang akan berlangsung pada 6 – 9 November 2019 ini merupakan yang pertama kalinya di Jawa Timur, karena selama ini di Surabaya sudah menggelar Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang saat ini digelar di Jakarta dengan skala internasional.

“Fesyar ini akan lebih berbeda, kami ingin memberdayakan perekonomian masyarakat dengan mendorong UMKM nya. Kita siapkan talkshow, dan kurator yan akan mengakurasi produk UMKM yang ingin ekspor, termasuk membantu mereka agar bisa melakukan proses sertifikasi halal,” tambahnya.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, Harmanta mengatakan pada gelaran tahun lalu yakni ISEF 2018, BI juga telah berhasil membantu 100 UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal.

“Tahun lalu, ada 300 lebih UMKM yang mendaftar, tapi setelah kita seleksi dan terkumpul, yang berhasil lolos melewati uji sertifikasi halal ini ada 100 UMKM. Kami berharap, di gelaran Fesyar ini pun begitu,” katanya.

Kepala Divisi SP-PUR BI Jatim, Abrar menambahkan dalam Fesyar ini, Bank Indonesia juga akan intens mengenalkan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) kepada masyarakat Jatim, dan khususnya pengelola rumah-rumah ibadah semua agama.

“Kami akan mengintensifkan QRIS ini untuk rumah-rumah ibadah. Kami punya target enggak cuma satu agama, tapi semua ada Masjid, Gereja, Vihara, dan Pura akan kami ajak bergabung di Fesyar, sekaligus melibatkan 15 perbankan,” jelasnya.

Selain itu, sharia Fair juga mengangkat potret keberhasilan pesantren dalam membangun kemandirian ekonomi. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim bekerjasama dengan instansi terkait memprakarsai sejumlah inisiatif terkait model bisnis pesantren, model bisnis ZISWAF, sertifikasi halal dan menembus pasar global bagi UMKM.

sinergi BI dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendorong program One Pesantren One Product (OPOP). Dalam hal ini, BI telah memiliki study komoditi unggulan, misal kabupaten Tuban dan banyuwangi. Dari sana bisa dipilih, produk mana yang ingin dikembangkan. Selain itu, BI juga akan berikan bimbingan teknis dan pendampingan.

“Berapa Pondok Pesantren yang sudah memiliki produk unggulan kita support. Misal Sidogiri punya keunggulan Air mineral dengan merek Santri,. Pondok pesantren di Lamongan punya keunggulan komoditas. Mereka-mereka ini nantinya yang akan kita dipertemukan sehingga saling kenal dan memacu perkembangan bisnisnya,” tambah Difi

Ketiga adalah showcase museum Artha Suaka dengan koleksi numismatik yang menggambarkan masuknya islam di nusantara khususnya di Pulau Jawa. Dengan membawa museum uang Artha Suaka ke Fesyar 2019, masyarakat akhirnya bisa mempelajari uang pada waktu masuknya Islam ke tanah Jawa.

Terakhir dukungan BI kepada industri kreatif dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memamerkan berbagai produk mereka yang selama ini telah sukses dijual secara online. (q cox, Tama Dinie)

Reply