FESyar Jawa 2022 Mencatatkan Transaksi Business Matching Senilai Rp 9,24 Triliun

SURABAYA (Suarapubliknews) – Penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa Tahun 2022 business matching mampu membukukan transaksi senilai Rp 9,24 triliun. Meningkat 33% dibandingkan tahun 2021 serta melampaui target 2022 sebesar 10%.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim, Budi Hanoto mengatakan business matching tersebut berwujud pembiayaan usaha produktif oleh 8 Perbankan Syariah dan 6 Lembaga Amil Zakat, skema kerjaama dengan e commerce serta business matching dengan buyer potensia dari dalam dan luar negeri.

“Disis lain, partisipasi 89 UMKM Syariah secara virtual dan 28 UMKM secara offline di Tunjungan Plaza mencatatakan transaksi penjualan dengan nilai sebesar Rp 2,46 Miliar atau meningkat hingga 73% dibandingkan tahun lalu. Sedangkan jumlah pengunjung baik secara offline maupun online, mencapai 158.000 orang,” katanya.

FESyar Jawa ini merupakan rangkaian road to ISEF di Jakarta, yang akan digelar di bulan Oktober. Seluruh packing the winner dari masing-masing gelaran FESyar baik di Sumatera yang dipusatkan di Aceh, FESyar Jawa dimana Jawa Timur menjadi tuan rumah dan Indonesia Timur yang tahun ini digelar di Makassar, akan diseleksi kembali untuk showcase di ISEF 2022.

ISEF 9 tahun lalu diawali dari Surabaya, agar gaungnya lebih besar dipindah ke Jakarta. Namun Surabaya, Jawa Timur tetap menjadi tuan rumah penyelenggara FESyar Jawa yang setiap tahunnya terus di-improve.

Budi menambahkan potensi ekonomi syariah luar biasa dimana 85 persen penduduk Jawa Timur adalah muslim dengan jumlah santri lebih dari 1 juta, belum dengan alumninya dan 6000 pondok pesantren.

“Kami tidak ingin cuma jadi pasar tapi produsen. Ini terbukti, dari FESyar Jawa sudah mampu melakukan kurasi 23 UMKM Syariah dari Banten hingga Jawa Timur yang join dengan agrigator luar negeri untuk ekspor rempah. Sudah ada capian yang lebih baik lagi dibanding tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan apresiasi penuh atas diselenggarakannya Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa Tahun 2022. Ia menyatakan, bahwa gelaran yang diinisiasi oleh Bank Indonesia Kanwil Jatim ini bisa menjadi pengasah kepekaan bagi para pemangku kebijakan terhadap situasi ekonomi di masyarakat.

“BI sebagai pemegang kebijakan di bidang moneter. Melalui kegiatan semacam ini akan semakin terasah kepekaannya terhadap situasi ekonomi riil yang ada di masyarakat. Melalui FESyar BI bahkan pemerintah daerah bisa merasakan langsung geliat ekonomi masyarakat. Sehingga nantinya, kebijakan yang diambil oleh BI akan benar-benar sejalan dengan apa yang kita rasakan di denyut nadi perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Dengan ditunjuknya Jawa Timur sebagai tuan rumah dari seluruh provinsi di Pulau Jawa, Wagub Emil berharap agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Utamanya bagi pelaku UMKM dan pelaku ekonomi lainnya, agar bisa menjadi lebih termotivasi. “Tentunya menjadi kesempatan bagi Jatim untuk lebih termotivasi, utamanya bagi para UMKM dan pelaku ekonomi lainnya agar bisa lebih terekspos di pasar yang lebih luas,” ucapnya.

Wagub Emil melanjutkan, dengan target utama Ekonomi Syariah, banyak sekali potensi-potensi yang bisa dikembangkan di Jawa Timur. Utamanya Jatim sebagai lokomotif ekonomi Indonesia, dengan sumbangsih 1/6 kepada perekonomian nasional.

Untuk diketahui, Jatim juga memiliki strength & opportunities untuk menjadi kontributor utama pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional. Hal ini memgingat, mayoritas masyarakat Jatim beragama Islam (85,38%) yang berpotensi sebagai base customer, serta terdapat 6.003 pondok pesantren (+ 965.646 santri) dan + 38 ribu masjid yang dapat dijadikan motor penggerak ekonomi syariah. “Baik keuangan syariah, hingga bisnis yang berkaitan dengan industri halal, kita harus terus support penguatannya dengan ekosistem syariah yang ada,” ucapnya.

Tercatat, pangsa perbankan syariah terhadap perbankan umum di Jawa Timur secara konsisten mengalami peningkatan dari 6,06% pada tahun 2019 menjadi 6,65% pada Juli 2022. Sedangkan, pertumbuhan penyaluran pembiayaan perbankan syariah di Jawa Timur tercatat tumbuh 0,96% (yoy). “Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan umum di Jawa Timur pada tahun 2020 yang sebesar -6,50% (yoy),” jelasnya.

Oleh sebab itu, dirinya kembali mengajak seluruh masyarakat dan insan ekonomi lainnya untuk terus mendukung geliat ekonomi syariah, khususnya di Jawa Timur. Bersama dengan sektor ekonomi vertikal di Jatim, dirinya optimis bisa terus menjaga kestabilan ekonomi di Jawa Timur. (Q cox, tama dini)

Reply