FTA Center Surabaya, Dorong UMKM Ekspor

SURABAYA (Suarapubliknews) – Posisi ekspor Jawa Timur terhadap perdagangan luar negeri Indonesia hanya 20,3 persen, oleh karenanya Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Timur (Jatim) terus berupaya mendongkrak ekspor.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jatim Drajat Irawan mengatakan salah satunya melalui peran para pelaku industri kecil menengah (IKM) serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang disarankan untuk bergabung di Free Trade Agreement (FTA) Center.

“Mereka akan menjadi IKM unggulan. Kemudian akan dikembangkan lagi menjadi lebih berkembang. Sehingga Jawa Timur akan terus mendorong pasar-pasar ekspor,” katanya dalam acara Diseminasi ‘Penyebarluasan Informasi dan Peluang Pasar Ekspor’.

Kementerian Perdagangan mempersiapkan kantor-kantor pusat informasi tentang Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) Center Kemendag di lima kota di Indonesia. Pembentukan FTA Center Kemendag merupakan amanat Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2018.

FTA Center akan mendampingi, melatih, dan memberikan advokasi kepada para pelaku IKM dan UMKM. Sekaligus memberikan informasi terkait produk apa saja yang laku di pasaran internasional.

FTA Center Surabaya merupakan Pilot Project Program Kerjasama antara Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, dan Universitas Airlangga.

Tenaga Ahli Bidang Strategi Promosi dan Pemasaran FTA Center Surabaya, Ir. Fernanda Reza Muhammad, MM mengatakan FTA Center Surabaya telah melaksanakan 3 kali Coaching Clinic Road To TEI 2018 dalam rangka menyeleksi dan membina UKM-UKM khususnya di Jawa Timur untuk dapat berbisnis dengan orientasi ekspor, dimulai dari informasi mengenai peluang pasar, tata cara ekspor, hingga pemasaran produk skala ekspor.

Di sisi lain, pemerintah telah lama berupaya mendongkrak angka ekspor. Namun tingginya rata-rata tarif dagang luar negeri yang mencapai 11,5 persen masih menjadi penghambat. Misalnya, tarif dagang produk pertanian antara Indonesia dan Maroko yang mencapai 25 persen.

Sekretaris Dirjen Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Moga Simatupang mengungkapkan, pemerintah masih berupaya menurunkan tarif dagang luar negeri. Terutama dengan negara-negara mitra dagang Indonesia.

“Salah satu langkah konkretnya melalui perjanjian dagang dengan negara-negara mitra Indonesia. Sehingga negara-negara mitra dagang Indonesia bersedia menurunkan tarif. Yakni, perjanjian represential tarif dan Free Trade Agreement (FTA). Sehingga saya berharap negara mitra itu menurunkan tarif,” katanya.

Saat negara-negara mitra menurunkan tarif dagang internasional, produk Indonesia dapat masuk dan berkompetisi dengan leluasa. Aktivitas ekspor di daerah pun otomatis akan terdorong dan meningkat. (q cox, Tama Dinie)

Reply