Gelar Acara Donor Darah dan Ziarah ke Makam Pahlawan, PDIP Surabaya: Perkuat Rasa Kebangsaan

SURABAYA (Suarapubliknews) – Memperingati Hari Sumpah Pemuda, PDI Perjuangan Kota Surabaya menggelar serangkaian agenda, yakni aksi donor di kantor partai Jalan Setail Surabaya dan ziarah ke makam pahlawan nasional WR Soepratman (pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya), Minggu (27/10/2020).

Menurut Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, Adi Sutarwijono, disamping merupakan wujud empati sosial partainya, rangkaian kegiatan tersebut digelar untuk memperkuat rasa kebangsaan.

“Bung Karno pernah menyebut aktivitas PMI ini sebagai inti kalbu Pancasila. Bung Karno juga pernah secara resmi mengajukan diri sebagai pendonor darah. Dalam tulisannya, Bung Karno mengatakan jika dia mendermakan darahnya, maka dia akan mengucap syukur kepada Tuhan karena diperkenankan menolong sesama manusia yang butuh darah,” ucapnya.

Terkait ziarah ke makam pahlawan nasional WR Soepratman (pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya), Adi menuturkan jika WR Soepratman berperan penting dalam babakan sejarah perjalanan bangsa ini.

“Berkat karya seninya, lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan di depan publik pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928. Lagu Indonesia Raya telah membangkitkan narasi dan kesadaran tentang sebuah negeri yang merdeka, justru ketika penjajah sedang mencengkeram negeri ini,” ujarnya.

Adi memaparkan, lagu Indonesia Raya kemudian kembali dinyanyikan pada kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) di Jakarta pada 1929. WR Soepratman memainkan gesekan biolanya untuk mengiringi lantunan Indonesia Raya.

“Ketika itu, Bung Karno, bapak bangsa kita, sebagai pemimpin PNI menyerukan kepada hadirin untuk berdiri sebagai bentuk hormat saat Indonesia Raya dikumandangkan. Maka sejak itu, rakyat Indonesia selalu menghormati dan menyanyikan Indonesia Raya dalam posisi berdiri,” jelas Adi yang merupakan mantan jurnalis.

“Dalam momen itu jelas terlihat betapa Bung Karno memberi contoh penghormatan terhadap lagu terhadap lagu Indonesia Raya, yang dikemudian hari ditetapkan menjadi lagu kebangsaan Negara Republik Indonesia,” imbuhnya.

Usai Bung Karno mengenalkan Indonesia Raya dalam Kongres PNI, sambung Adi, lagu tersebut semakin ramai dinyanyikan kaum bumiputera.

“Dalam sejumlah teks sejarah disebutkan, WR Soepratman sampai mencetaknya dalam bentuk stensilan agar lagu itu menyebar ke seluruh kalangan massa rakyat, selain sebelumnya syair Indonesia Raya tercatat pernah dimuat di media bernama Sin Po,” papar Adi.

Untuk lebih mengenalkan WR Soepratman kepada kaum muda, PDIP Surabaya bakal mendorong sekolah-sekolah untuk semakin aktif berziarah di makam sang pahlawan.

“Makam WR Soepratman hanya ramai ketika acara seremonial. Anak-anak muda Surabaya perlu mengenal beliau yang punya jasa besar pada perjalanan bangsa merebut kemerdekaan,” ujarnya.

Diketahui, WR Soepratman wafat di Surabaya, tepatnya di rumah Jalan Mangga, Tambaksari, pada 17 Agustus 1938. Peresmian pemugaran makam Pahlawan Nasional itu dilakukan Presiden Megawati Soekarnoputri, 18 Mei 2003. (q cox)

Reply