Gelar Cipta Karya PVKK Unipa, Kolaborasi Jurusan Tata Busana, Tata Rias dan Tata Boga

SURABAYA (Suarapubliknews) – Mengusung konsep kearifan lokal mahasiswa jurusan tata busana, tataboga dan tata rias Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya menggelar pameran bersama dalam Gelar Cipta Karya PVKK yang mengangkat tema Glam Of Culture. Total 126 makasiswa berkolaborasi menampilkan karya terbaiknya sebagai tugas di semester akhir.

Kepala Program Studi Program Vokasional Kesejahteraan Keluarga Agus Ridwan mengatakan Gelar Cipta Karya PVKK pertama kali diadakan secara bersama dan mengabungkan 3 jurusan. “Biasanya masing – masing jurusan mengadakannya secra terpisah, kali ini kami menantang mereka untuk menghasilkan karya bersama dengan tema besar yang mengangkat legenda dari enam kepulauan di Indonesia,” katanya.

Masing – masing jurusan menampilkan sebuah karya tema kecil yang berkesinambungan antara tata busana, tata rias dan tata boga. “Semisal mereka mengangkat tema Putri Kemaro dari Sumatera, tata busana harus menciptakan desain yang disesuaikan dengan tata rias dan tata boga pun mengciptakan makanan yang mengangkat unsur tema tersebut,” terang Agus Ridwan.

Selain itu, para mahasiswa semester akhir tersebut tak hanya menyajikan sebuah design karya, tapi juga menggali dan menceritakan kembali sejarah kebudayaan dari masing-masing tema yang diusungnya.

“Kami mengajak masyarakat untuk menikmati karya sekaligus berjalan-jalan dan kembali mengingat tentang cerita-cerita kebudayaan yang mengakar dan mewarnai perjalanan bangsa kita,” tutupnya.

Desain kostum yang diangkat sangat beragam. Mulai dari yang bertema Putri Burung Sikatan yang didominasi warna biru dan putih pada kostum, make up dan juga makanan yang disajikan. Hingga Burung Merak yang di dominasi warna hijau dan bitu tua. Ada juga Calon Arang yang di dominasi warna merah dan emas.

Salah satu mahasiswa tata busana, Yunia Dwi Susanti berkolaborasi dengan mahasiswa tata rias, Maulidatul hasanah, dan mahasiswa tata boga Javier Farras mengangkat tema Reog dalam pagelaran ini, selain menyesuaikan dengan tema legenda di Pulau Jawa, juga sebagai bentuk dukungan agar budaya asal Ponorogo tersebut, segera di akui sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh Unesco.

“Kami bertiga sepakat mengusung Reog. Selain tertarik karena keunikannya dari keterpaduan hewan merak dan Singa. Kita juga mendukungnya untuk segera diakui Unesco,” ujar Yunia.

Membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan ketiganya akhirnya dapat mewujudkan Reog tak hanya dalam desain pakaian, tata rias namun juga makanan. “Untuk makanan saya menyajikan gethuk warna warni berbentuk miniatur reog. Jadi semakin in line ketika dipertunjukkan,” terang Javier.

Rektor Unipa Dr. M. Subandowo, MS berharap kegiatan yang juga pertama kalinya ditampilkan untuk umum ini selain untuk memperkenalkan karya – karya mahasiswa dan sebagai ajang mempromosikan karya mereka di masa mendatang. (Q cox, tama dini)

Reply