Gubernur Khofifah Tekankan Surabaya Tetap Jadi Barometer Kebangkitan Ekonomi di Jawa Timur

SURABAYA (Suarapubliknews) – Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 131.35-368 Tahun 2021 tentang Pengesahan Pengangkatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Hasil Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2020 di Kabupaten dan Kota pada Provinsi Jawa Timur dilaksanakan Sertijab dari Pelaksana Harian (Plh.) Wali Kota Surabaya Ir. Hendro Gunawan MA kepada Wali Kota Surabaya terpilih Eri Cahyadi, S.T.,M.T. dan Wakil Wali Kota Surabaya Ir. Armudji.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri serah terima jabatan mengatakan agar Kota Surabaya tetap menjadi barometer kebangkitan ekonomi di Jawa Timur di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya terpilih Eri Cahyadi, S.T.,M.T. dan Wakil Wali Kota Surabaya Ir. Armudji.

Pasalnya, PDRB Kota Surabaya menyumbang  24,11 % terhadap PDRB Jawa Timur. Sementara PDRB Jatim sendiri menyumbang 14,67 % terhadap PDRB Nasional. Oleh sebab itu dirinya meminta agar apa yang telah dicapai Kota Surabaya untuk tetap dipertahankan dan bahkan lebih ditingkatkan lagi.

“Ini menjadi bagian yang penting, ini tidak boleh ada pelemasan atau pelemahan, jadi semua harus pada proses percepatan untuk membangun kebangkitan ekonomi di Jawa Timur terutama episentrumnya, yang menjadi sentra ini adalah Surabaya,” katanya.

Sinergitas dan kolaborasi terus ditingkatkan anatara Pemerintah Kota Surabaya ddengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dirinya menyebut bahwa dari 218 proyek strategis dari Program Strategis Nasional yang dituangkan dalam Perpres 80 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan ekonomi di Jawa Timur, 77 diantarnya ada di kawasan Gerbangkertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) dan sebagian besar berada di kota Surabaya.

“Oleh karena itu, ini yang juga kami pesankan supaya ada sinergitas pasca pandemi covid ini jadi sekarang sesungguhnya preconditioning nya sudah bisa dilakukan karena provincial office dari PSN tersebut ada di Bappeda Provinsi Jawa Timur,” lanjut Khofifah.

Gubernur Khofifah juga menginisiasi terbentuknya sister city antara Kota Surabaya dan Kabupaten Sampang. Menurutnya, hal tersebut sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketimpangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 82,23 di atas rata-rata Provinsi sebesar 71,71 atau berada pada kategori sangat tinggi.

Capaian IPM Kota Surabaya yang tertinggi di Jawa Timur. Sedangkan IPM Kabupaten Sampang dengan angka 62,16, terendah di Jawa Timur. “Saya ingin mengajak semacam Sister City, ada SDM-SDM dari Surabaya yang akan mensupport percepatan penguatan IPM di Sampang,” tuturnya.

Namun di sisi lain, ada upaya percepatan dan intervensi detail yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya terkait Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Gubernur Khofifah mengungkapkan bahwa salah satu PR dari Pemerintah Kota Surabaya adalah menurunkan AKI dan AKB di Kota Surabaya yang masih tinggi karena berada di posisi 5 besar.

“Menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Surabaya ini memang harus dilakukan intervensi secara detail dan mungkin dengan sinergitas yang lebih komprehensif  saya rasa InsyaAllah kalau sinergitas itu terus dilakukan bisa memberikan penurunan secara lebih signifikan terhadap angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Surabaya,” tandasnya.

Orang nomor satu di Jawa Timur ini juga menyampaikan pesan Proklamator RI Soekarno bahwa saat ini Indonesia berada pada periode mental invesment. Lebih lanjut mental investment menurut Bung Karno dalam arti luas menyangkut investmen of human skill, material Investment dan mental Investment.

Namun dari ketiga Investment, mental Investment merupakan yang paling penting. Oleh sebab itu, Gubernur Khofifah mengajak kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya untuk mampu berupaya keras bersama-sama membangun mental Investment dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Surabaya dan di Jawa Timur.

Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa hal tersebut sesuai dengan pesan Presiden RI Joko Widodo agar mainset kerja harus diubah dari kerja ordinary ke kerja extraordinary. Etos kerja yang tidak biasa yang mampu dengan kerja cepat, detail dan tepat akan dapat mewujudkan pelayanan terbaik bagi masyarakat akan merubah citra masyarakat terhadap pemerintah dan birokrasi.

Sehingga harapannya dalam masyarakat juga timbul feedback yang baik dan tumbuh mental Investment di masyarakat. “Hal tersebut dapat dilakukan dengan membentuk etos kerja di lingkungan pemerintahan baik Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan kerja cepat, detail seperti apa yang telah disampaikan Pak Presiden dan saya tambah satu lagi kerja tepat,” pungkasnya. (q cox, tama dinie)

Reply