Hadiri Tasyakuran Pesantren Al-Ma’ali, Wagub Emil: Ini Salah Satu Wujud Nawa Bhakti Satya

BOJONEGORO (Suarapubliknews) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak berkesempatan menghadiri Tasyakuran Peresmian MTs dan MA Plus Pondok Pesantren Al-Ma’ali Mayangrejo, Kalitidu, Bojonegoro. Kehadirannya itu disambut Pengasuh Pondok Pesantren dan Pimpinan Yayasan Al-Ma’ali KH. Maslahan, Kepala Desa Sunaryo, Camat Kalitidu, serta ratusan santri.

Mantan Bupati Trenggalek itu pun langsung meninjau pembangunan gedung MTs dan MA Plus yang pembangunannya masih 70 %.  Selain itu, Ia juga melihat Balai Latihan Kerja (BLK) Bahasa Arab dan Inggris serta Gedung Tahfiz miliki Pondok Pesantren Al-Ma’ali.

Terkait pembangunan tersebut, Ia menyampaikan bahwa pembangunan Ponpes Al-Ma’ali merupakan wujud dari program unggulan Jatim Nawa Bhakti Satya, yakni Jatim Berkah. Dimana, program tersebut dibutuhkan ridho Allah SWT untuk mencapai Jatim yang mulia.

“Disinilah kehadiran musholla, masjid, pondok pesantren dan ikon agama lainnya berperan penting dalam menyukseskan salah satu program Nawa Bhakti Satya. Agar Jatim bisa menjadi wilayah yang luhur dan makmur,” katanya.

Selain itu, Ia juga menekankan pentingnya pelestarian pondok pesantren guna pembentukan karakter dan penempaan mental santri. Pembelajaran tersebut menjadi hal yang esensial. Sebab, ilmu duniawi terus berubah sesuai perkembangan zaman.

“Kalau terus menuruti buku dan sains, tidak akan ada habisnya. Dunia terus berubah, terutama dalam bidang teknologi dan digitalisasi sistem. Maka dari itu, kita butuh lulusan dengan jiwa yang kuat. Salah satu yang bisa dilakukan adalah pendidikan dengan basis pengasuhan seperti pesantren ini,” terang Emil.

Pembangunan gedung baru, akan menguntungkan masyarakat sekitar. Maka, pendidikan di Bojonegoro bisa terintegrasi di kawasan ini dan tak perlu keluar daerah lagi untuk bersekolah.

Sementara dikesempatan yang sama, Wagub Emil menyampaikan pentingnya penerapan protokol kesehatan (Proses) yang ketat dalam berbagai aspek. Utamanya di momen bulan suci Ramadhan dan menjelang Idul Fitri 1442 H. Agar tidak terjadi peningkatan lonjakan pandemi Covid-19, Emil pun mengimbau masyarakat agar tidak pulang kampung.

“Mohon ditahan dulu agar tidak mudik. Saya tahu tradisi ini penting, tapi kita juga harus mengingat bahwa kita masih di tengah pandemi dan sebagai rakyat Jatim, kita harus selalu gotong royong untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang lebih luas,” ujarnya.

Saat ini, kasus terkonfirmasi di Bojonegoro telah mencapai 1,407 orang. Jika warga tetap memaksa untuk pulang kampung, aparat kepolisian akan menindak tegas. “Tugas Polsek untuk menahan arus mudik akan semakin berat. Hal ini dikarenakan tenaga Polsek Bojonegoro hanya sekitar 21 orang saja,” ujar Emil.

Disamping itu, pelaksanaan taraweh bersama juga masih harus dibatasi. Itu dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi lonjakan kasus pandemi Covid-19. “Hanya wilayah zona hijau dan kuning saja yang boleh mengadakan taraweh. Itupun dengan Prokes yang ketat. Karena Bojonegoro masih zona orange, dihimbau untuk lebih baik tidak melakukannya,” pesannya. (q cox, tama dinie)

Reply