Harga Tomat Meningkat di Era Transisi New Normal, Petani di Kediri Mulai Bisa Tersenyum

KEDIRI (Suarapubliknews) – Witoyo, petani asal Desa Paron,Kecamatan Ngasem,Kabupaten Kediri mengaku bisa tersenyum lega setelah hasil komoditi tanaman tomatnya dapat terjual dengan harga Rp 5 ( ribu) per kilo gram di pasaran

“Sebelumya harga tomat hanya Rp 500 hingga Rp 1000 perak per kilogram, dan saat ini harganya sangat bagus di pasaran,”Ucap Witoyo kepada reporter Suarapubliknews.net. Senin (16/11/2020)

Menurut Petani asal Desa Paron tersebut, bahwa anjloknya harga tomat pada sebelumnya karena terdampak pandemi Covid-19, sehingga para petani tidak bisa optimal untuk melakukan pemasaran, terutama ke luar daerah

“Setelah di terapkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) Oleh Pemerintah,akhirnya terkendala pemasaran,dan berdampak harga tomat tidak setabil,” Jelas Witoyo

Lebih lanjut,Witoyo mengatakan,bahwa 10 hari terakhir ini harga tomat mulai menunjukkan grafik peningkatan yang sangat menguntungkan. Peningkatan harga mulai dari Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per kilogramnya

Dari lahan seluas 1.400 meter persegi,dan lima kali panen ini saya sudah mendapatkan 2 ton lebih tomat. Jika cuaca bersahabat seperti hari-hari ini, saya memperkirakan bisa panen total sekitar 10 sampai 12 kali

“Untuk awal tanam kita menghabiskan biaya sekitar Rp 6 Juta, mulai untuk pembibitan hingga perawatan seperti pengairan serta perawatan dari serangan hama dan jamur,” tambahya

Terpisah, Yayuk Anisha, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dipertabun Kabupaten Kediri sangat mengapresiasi kepada petani yang berhasil panen di saat musim saat ini, karena tidak mudah untuk panen sebab cuaca juga kurang mendukung

Petani yang berhasil panen sekarang adalah orang-orang yang melek informasi pasar. Artinya mereka berani mengambil resiko besar, di saat para petani lain menanam cabai, ia justru berbeda dengan menanam tomat

“Di saat stok tomat di pasaran suda mulai menipis, justru para petani di Desa Paron baru mulai panen, dan atas hal itu saya sangat mengapresiasi,” Pungkasnya. (q cox, Iwan)

Reply