Harganas 2022, Ketua TP PKK Jatim Ingatkan Fokus Penurunan Stunting, Cegah Rendahnya IPM

MADIUN (Suarapubliknews) – Memperingati Hari Keluarga Nasional 2022, Ketua TP PKK Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak meninjau Kampung Keluarga Berencana (KB) di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Rabu (29/6).

Arumi menyampaikan, fokus penurunan angka stunting di Jawa Timur masih terus menjadi fokus utama Tim Penggerak PKK Jawa Timur. Dimana hal tersebut juga menjadi tema utama pada peringatan Hari Keluarga Nasional tahun 2022, yakni ‘Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting’.

“Tentunya pendataan yang terintegrasi juga bisa menjadi langkah yang jitu dalam menekan angka stunting di Jawa Timur. Saya mengapresiasi sistem digitalisasi pendataan yang diterapkan di kelurahan ini, karena digitalisasi ini memang harus dimanfaatkan, karena bisa memudahkan (kepala daerah) untuk mengambil kebijakan yang strategis,” katanya.

Arumi menambahkan, saat ini terdapat lebih dari 4 kabupaten yang masuk dalam kategori merah stunting. Diantaranya Bangkalan, Pamekasan, Bondowoso dan Lumajang. “Kami telah melakukan intervensi di daerah tersebut, diantaranya melalui beberapa program mulai dari persiapan menikah, saat hamil, hingga intervensi gizi kepada anak dan mengawasi pola asuh orang tua kepada anak,” terangnya.

Lebih lanjut Arumi menambahkan, fokus pengendalian angka stunting menjadi penting, lantaran berpengaruh pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur. “IPM Provinsi Jawa Timur pada tahun 2021 yaitu sebesar 72,14% atau meningkat sebesar 0,43 poin jika dibandingkan pada tahun 2020. Agar IPM Jawa Timur terus meningkat, perlu dilakukan berbagai penyelesaian masalah-masalah terkait stunting,” lanjutnya

“Melihat dampak kondisi stuning yang berpengaruh pada IPM, maka pencegahah untuk memastikan kesehatan yang baik dan gizi yang cukup adalah hal yang penting. Namun, upaya tersebut tidak dapat ditanggulangi secara signifikan tanpa adanya kerjasama seluruh komponen yang ada di daerah mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan pemantauan dan pengendalian,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Arumi mengingatkan pentingnya pola asuh, pola makan dan pola hidup bersih yang benar pada anak. Fakfor tersebut antara lain juga disebabkan karena tingginya angka kasus pernikahan dini.

“Karena belum dalam usia terbaik untuk mengasuk anak. Pola makan pula disebabkan karena rendahnya daya beli masyarakat sehingga makanan yang bergizi tidak dapat terpenuhi. Oleh karena itu TP PKK melalui pemberdayaan keluarga dapat memberikan kontribusi dalam mendorong pola asuh di keluarga,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, PJ Sekda Provinsi Jatim Wahud Wahyudi menambahkan, pada momen Hari Keluarga Nasional 2022 kali ini dapat dijadikan momentum untuk membangun komitmen dalam melaksanakan program-program yang telah disepakati. Diantaranya yakni program pembangunan keluarga, kependudukan dan KB serta pencegahan stunting dan gizi buruk.

“Oleh karena itu, untuk memerangi stunting dan gizi buruk harus menjadi gerakan kita bersama. Alhamdulillah dalam tiga tahun kepemimpinan Ibu Gubernur Khofifah dan Bapak Wagun Emil Dardak, telah mampu menurunkan angka stunting sebanyak 9.31 persen. Dimana pada tahun 2018 kemarin angka stunting Jawa Timur diatas rata-rata nasional yaitu sebanyak 32,81 persen,” jelasnya

Dimana saat ini, lanjut Pj Sekda Prov Jatim angka nasional stunting justru lebih besar dari pada Jawa Timur yakni berkisar 24.4 persen sementara itu 23,5 persen. “Ini menjadi tekad kuat  kita bersama target nasional pada 2024, yakni 14 persen. Kami juga mengapresiasi Kota Madiun yang saat ini jumlah kasus stuntingnya berada di 12 persen, tentu ini dibawah target nasional,” kata Wahid.

Didampingi Walikota Madiun Maidi, Arumi menyempatkan diri menyapa langsung beberapa balita yang terkonfirmasi stunting di kelurahan tersebut. Salah satunya yakni Chiko (3), balita dengan gizi dibawah rata-rata. Pada kesempatan tersebut, Arumi yang juga Ketua Dekranasda Jatim tersebut juga memberikan beberapa paket sembako dan juga peralatan masak untuk keluarga balita stunting. (Q cox, tama dini)

Reply