Industri Retail Jatim Terapkan Protap di Masa Darurat Corona

SURABAYA (Suarapubliknews) – Industri retail di Jawa Timur (Jatim) tetap operasional dengan meningkatkan kewaspadaan, di tengah masa darurat Corona yang diprediksi sampai 29 Mei 2020.

Koordinator Wilayah Timur 1 Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), April Wahyu Widarti mengatakan berkaitan dengan tanggap darurat corona ini Aprindo sudah mengimbau kepada semua anggota untuk melakukan tindakan dalam perlindungan kepada karyawan dan customer.

“Dan sudah sesuai dengan protap ritel. Protap yang diterapkan pada karyawan meliputi: melakukan pengecekan suhu kepada semua karyawan internal external dan tamu yang masuk lewat pintu karyawan. Ini dilengkapi logbook Untuk monitoring,” katanya.

Kemudian menyediakan tempat cuci tangan dengan perlengkapan sabun cuci dan air mengalir. Serta melakukan sanitasi rutin di semua peralatan kerja dan semua property karyawan, seperti laci, loker, musola, kamar mandi dan lainnya.

“Juga pemberian vitamin kepada karyawan, dan mengatur jam istirahat agar tidak terjadi penumpukan di kantin. Mengatur jarak di musola dan tempat duduk kantin, serta elengkapi hand sanitizer di dalam kantor,” jelas April.

Sedangkan untuk customer, ritel menyediakan hand sanitizer atau tempat cuci tangan di area entrance customer dilengkapi sabun dan air mengalir. Informasi informasi terkait virus Corona . Membuat jarak antrian antara 1,2 – 2 meter.

Melakukan pengecekan suhu terhadap customer, menyediakan ruang isolasi sementara untuk customer yang suhu badannya diatas 37 C dan melakukan sanitasi di keranjang dan troly customer. “Untuk poin poin diatas anggota sudah melaksanakannya ada yg 100 persen ada juga yg sedang berprogress,” ungkapnya.

Untuk permintaan konsumen terhadap barang, saat ini pihaknya melakukan maksimal dalam penyediaan. Tapi banyak kendala di lapangan yang membuat stok produk tersebut kosong. Misalnya dari supplier chemical hand sanitizer. Masker yang hilang dari pasaran. Ini yang membuat Riteler tidak bisa menyediakan produk itu kepada konsumen.

“Untuk pembatasan kita akan ikuti instruksi pemerintah artinya kita paham dengan situasi saat ini. Kita lakukan pembatasan yang wajar, sehingga customer juga tidak kecewa, karena saat ini semua sedang dilanda keresahan dan was was. Sehingga jangan sampai ketika belanja customer merasa kecewa lagi. Tentunya Riteler paham dan tahu mana end user mana yang spekulan,” terang April.

Sementara untuk produk sembako, saat ini stok masih ada dan beberapa memang ada yang mengalami stok kosong. Yaitu gula pasir. Saat ini menjelang Ramadan dan Lebaran, kebutuhan gula pasir di konsumen cukup tinggi.

“Tapi karena stok terbatas, ditambah dengan pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah, kami mengikuti kondisi yang ada,” tutup April. (q cox, Tama Dinie)

Reply