Ini Cerita Delegasi UN Habitat III asal Pemkot Surabaya-Indonesia di Quito Ekuador

QUITO-EKUADOR (Suarapubliknews.net) –Konferensi PBB ketiga tentang Perumahan (Housing settlements) & Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan dengan tajuk Habitat III, akhirnya diselenggarakan pada tanggal 17-20 Oktober 2016 di kota Quito, Ekuador.

Konferensi ini ditetapkan dalam resolusi PBB no A/RES/66/207 tgl 22 Desember 2011 tentang Implementation of the outcome of the United Nations Conference on Human Settlements and strengthening of the United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat)

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Basuki Hadimulyono (Menteri PU dan Pera), dengan membawa beberapa staf kementrian seperti Arifin Rudyanto (Deputi Pengembangan Regional Bapenas), Rina Agustin ( Sekretaris Dirjen Cipta Karya Kementerian PU & Pera), Hari Suprayogi ( Direktur Sungai & Pantai, Ditjen Sumber Daya Air, kementerian PU & Pera), Aryn Saputri Harahap (Kepala Seksi Kaw.II Pemukiman Perdesaan), Lana Winayanti ( Staf Ahli Menteri PU & Pera Bidang Sosial Budaya & Peran Masyarakat), dan Agung Budi Waskito (Tenaga Ahli Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian PU & Pera).

Sementara untuk utusan dari pemkot Surabaya terdiri dari Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), M. Taswin ( Assisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Surabaya), Eko Haryanto ( Assisten Kesra Pemkot Surabaya), Wiwiek Widyanti ( Kabag Umum dan Protokol Pemkot Surabaya), Irvan Widyanto ( Kasatpol PP Pemkot Surabaya), Vinsensius Awey (Anggota DPRD), Herlina Harsono Njoto (DPRD) dan Adi Sutarwijono (DPRD).

Vinsensius Awey salah satu delegasi asal Surabaya- Indonesia mengatakan bahwa kondisi udara di kota Quito-Ekuador dianggap sangat berbeda dengan Indonesia. Dia mengatakan jika udaranya tipis, sehingga sering sesak nafas.

“Udara disini tipis sekali, Sehingga tidak bisa tarik nafas panjang, Oksigen tipis, Cepat capek.” Ucap Vinsensisus Awey kepada Suarapubliknews.net via ponselnya, Rabu (19/10/2016)

Dia menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi salah satu konferensi global pertama setelah Agenda Pembangunan Pasca 2015. Konferensi ini merupakan kesempatan untuk mendiskusikan dan memetakan pendekatan baru dalam menghadapi tantangan global dan peluang urbanisasi untuk pelaksanaan tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Konferensi ini menjadi forum diskusi pelaku pembangunan perkotaan yg beragam spt pemerintah, pemerintah daerah, parlemen, civil society, sektor swasta, lembaga akademik, dan semua pihak terkait untuk meninjau kembali kebijakan perkotaan dan pemukiman yang mempengaruhi masa depan kota, dengan tujuan untuk menghasilkan “New Urban Agenda” abad ke-21 yang mengakomodir dinamika perubahan dunia,” pungkasnya. (q cox)

Reply