Ini Pendapat Desaigner Asal Surabaya soal Trend Fashion Week

SURABAYA (Suarapubliknews) – Fenomena Citayam Fashion Week di SCBD yang menular hingga Surabaya mendapat tanggapan dari desaigner asal Kota Pahlawan, Embran Nawawi. Menurutnya Fenomena Citayam fashion week merupakan fenomena sosial.

“Sebuah efek komulatif di era modern yang terbungkus pandemic covid 19 dua tahun terakhir. teknologi 4.0 sangat berpengaruh atas bertumbuhnya fenomena ini dimasa transisi menuju Endemi. Generasi muda yang lama terkungkung kini berani hadir dan menunjukan gejolak darah muda nya dengan expresi pada tampilan fashion,” katanya.

Fenomena ini memberi inspirasi bagi banyak orang dan banyak kondisi di berbagai kota di seluruh Indonesia. Dampak positiv nya adalah menumbuh kembangkan kreatifitas dan penyaluran emosional anak muda melalui gaya busana.

“Selain itu juga menstimulus industri dan bisnis garmen indonesia kepada kebutuhan dalam negeri. dan ini jga dapat merangsang industri kecil menengah bahkan industri berbasis budaya. Sementara sisi negatifnya, kondisi ini bias ditunggangi pada kepentingan-kepentingan kelompok untuk kebutuhan eksistensi hingga hal yang bisa mengancam ketertiban masyarakat bahkan negara,” lanjutnya.

Tetapi jika dilihat dari kacamata fashion, fenomena ini tidak lagi berkaitian dengan apa yang disebut denga trend. Karena pada dasar nya jika dunia fashion membahas trend, maka yang di bahas adalah apa yang akan terjadi dalam fashion yang akan datang atau disebut dengan Trend Forcast.

“Nah, yang terjadi pada Citayam Fashion week ini adalah ekspresi street fashion atau gaya berbusana yang bebas, yang mana product nya tidak harus mengacu pada trend tetapi pada gaya atau styling yang mereka suka secara individu maupun kelompok,” terangnya.

Ditambahkan Embran yang juga menarik adalah kesalahan dalam pemakaian kata Fashion Week.  “Ini bukan merupakan fashion week tetapi lebih tepat nya Fashion Weekend. karena fashion week merupakan agenda untuk menampilkan karya fashion yang akan datang atau trend forcasting dari barnd atau designer dunia,” tegasnya.

Hal ini ditegaskan pula oleh Founder Aryani Creativity Nest Aryani Widagdo melalui laman media sosialnya yang mengatakan Fashion Week adalah acara, yang berlangsung sekitar satu minggu.

Dalam acara yang berkaitan dengan dunia industri fashion itu, fashion designer, brand / merek busana atau Rumah Mode menampilkan koleksi terbaru mereka di atas runway / panggung peragaan, dipamerkan kepada buyer / pembeli dan media.

“Pentingkah acara ini ? Ya, karena mempengaruhi tren fashion yang akan datang untuk musim berikutnya. Jadi, gampangnya, dalam Fashion Week, ada unsur “mau jualan”, begitu. Fashion Weeks yang utama, diadakan di New York, London, Milan, dan Paris, yang disebut “Big Four”, menampilkan fashion designer yang menjadi kebanggaan pada masanya,” katanya

Ide-ide segar dalam busana, terorganisasi dengan bagus, dalam beberapa peragaan, sedemikian sehingga banyak mendapat liputan media. “Kita selalu penasaran untuk menemukan koleksi baru dan terbaik, tetapi pernahkah Anda bertanya-tanya kapan dan di mana “tradisi” pekan mode dimulai dan bagaimana perkembangannya selama bertahun-tahun?,” tambahnya.

Jadi, kalau tujuan serangkaian  peragaan busana itu bukan untuk “serius jualan”, pemakaian kata Fashion week menurutnya, kurang tepat. “Mungkin bisa memakai kata Fashion Parade, seperti Surabaya Fashion Parade yang memang lebih hanya pada parade. Atau kalau di jalanan, Sidewalk Fashion; Street Fashion; atau apa lagi ya, Teman-teman  ??? . . . . . . tetapi bukan Fashion Week,” tegas fashion educationist itu.

Tak harus di Jalan Tunjungan, Embran mengusulkan di Surabaya bisa memanfaatkan alun – alun kota atau taman – taman dengan beberapa tema yang berbeda ‘Weekend Fashion Street’. (Q cox, tama dini)

Reply