Ini Penjelasan BPBD Jatim Terkait Bantuan Mobile Combat Covid-19

SURABAYA (Suarapubliknews) – Terkait bantuan mobil PCR yang dikirim BNPB, Pemprov Jatim melalui Koordinator Rumpun Gugus Tugas Logistik memberikan penjelasan bahwa keberadaan mobil tersebut atas permintaan Pemprov Jawa Timur dan Pangdam V Brawijaya. Dengan bukti surat tertanggal 11 Mei 2020, dengan nomor: 00/34/COVID-19/V/2020.

Kalaksa BPBD Prov Jatim Suban Wahyudiono mengatakan bahwa surat tersebut perihal permohonan dukungan percepatan penegakan diagnosis Covid-19. Di mana ada 15 unit yang diminta oleh Pemprov Jatim. Juga permintaan cartridge sejumlah 3.500 buah bagi rumah sakit yang memiliki kemampuan melakukan TCM GeneXpert.

“Di samping surat permohonan, Ibu Gubernur langsung telepon Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia Bapak Jenderal Doni Monardo. Dan Bapak Pangdam juga berkomunikasi dengan Kepala BNPB untuk segera ada bantuan mobil Unit PCR ini. Di samping itu, saya sendiri wa ke Bapak Doni diarahkan segera komunikasi kepada Pak Dodi Deputi I Kedaruratan BNPB,” katanya.

Dalam perbincangannya dengan Deputi I Bapak Dodi pada malam hari dikirim 1 unit mobil isinya 2 mesin PCR. Dodi juga menyampaikan nomor telepon driver yang membawa mobil PCR maupun kru untuk berkoordinasi tentang penerimaan mobil PCR dari Jakarta itu.

Berdasarkan kesepakatan dengan Deputi I kedatangan mobil unit PCR akan terima di RS Lapangan di Jalan Indrapura Surabaya. Itu kronologis awal. Selama perjalanan mobil PCR dari BNPB terus dipantau oleh Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur. Mobil PCR itu tiba di Surabaya pada pukul 04.00 Wib.

“Jadi, pada 27 Mei mobil langsung beroperasi di Rumah Sakit Unair Di rumah sakit Unair mengerjakan 200 sampel dan di Asrama Haji mengerjakan 100 sampel. Jadi totalnya ada 300 sampel di Surabaya Kamis 28 Mei mobil unit PCR diarahkan ke Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Lamongan. Karena apa, di Sidoarjo juga banyak yang harus di-lab ini,” urai Suban.

Diakui Suban, Ia menerima surat dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tentang permohonan bantuan swab PCR. “Kalau kita mencermati, saya juga disurati Ibu Wali Kota, permohonan bantuan swab PCR tanggal 22 Mei 2020 ke kami. Padahal mobil unit PCR ini datangnya pada 27 Mei. Jadi surat wali kota pun saat ini belum kita jawab karena mobil ini langsung beroperasi. Jadi kenapa kita harus menjelaskan, karena ada pemberitaan kurang jelas,” lanjutnya.

Berdasarkan kronologisnya mobil lab ini dalam statmennya untuk Jatim bukan hanya Surabaya tetapi disebutkan kota lain seperti Sidoarjo, Lumajang. Kenapa mobil lab PCR itu dibawa ke Kabupaten Tulungagung dikarenakan memerlukan bantuan karena terkendala kapasitas swab yang di sana harus perlu dilayani. Karena di Tulungagung PDP-nya tertinggi nomor dua di Jatim.

Berdasarkan jumlah PDP dengan jumlah 588 pasien dimana terdapat 172 pasien yang meninggal dalam status PDP sebelum sempat diswab. “Itulah kronologis kenapa ada kita juga menyampaikan kronologis penerimaan bantuan mobil PCR. Oleh karena itu mobil lab ini berkeliling ke daerah-daerah yang membutuhkan,” tutup Suban.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuadi menerangkan mobil PCR tersebut digunakan untuk mempercepat tes PCR. “Kita tahu tes PCR diperlukan di rumah sakit-rumah sakit maupun di Dinas Kesehatan. Karena dengan PCR yang cepat maka bisa melakukan isolasi dengan tepat. Bisa mengidentifikasi mana yang sakit mana yang carrier dengan tepat,” jelasnya.

Menurut Direktur Rumah Sakit Umum dr Soetomo ini banyak sekali yang minta segera dan data-datanya juga ada. “Tadi sudah disebutkan hari pertama kita kirimkan ke Rumah Sakit Airlangga, karena memang PCR itu ditujukan untuk mensubtitusi sementara Universitas Airlangga ITD yang PCR-nya ada masalah. Jadi memang itu kita kirimkan ke RS Unair untuk melanjutkan PCR di sana,” papar dr Joni..

Sorenya koordinasi dengan kepala dinas kesehatan kota diarahkan ke Asrama Haji hanya 10 dilanjutkan hari berikutnya di asrama haji untuk mendiagnosa mereka yang diisolasi, keesokan harinya seharian mobil PCR di Sidoarjo. Ada 2 mobil yang standbye di RS Darurat.

“Kemudian Bu Fenny menugaskan staffnya Bu Deny yang tidak menyampaikan acaranya di Surabaya apa, sehingga mobil dikirimkan ke Lamongan dan Tulungaggung. Ditengah jalan beliau  telpon minta mobil di Surabaya, padahal Lamongan dan Tulungagung sudah siap, saya sudah bilang saya ngomongnya datar – datar gini aja. Besok (Sabtu 30/05/2020) setelah diskusi dengan Bu Deni dan Kabagop direncanakan di RS Soewandi 100 Husada Utama 100 kemudian dikampung tangguh RS Darurat,” terangnya. (q cox, Tama Dinie)

Reply