PeristiwaPolitikUncategorized

Jaga Eksistensi Kelompok Karawitan Kampung, Anas Karno: Penguatan Kebudayaan adalah Esensi Tri Sakti Bung Karno 

44
×

Jaga Eksistensi Kelompok Karawitan Kampung, Anas Karno: Penguatan Kebudayaan adalah Esensi Tri Sakti Bung Karno 

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Kegiatan reses jaring aspirasi masyarakat Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Anas Karno di Balai RW 02 Medokan Semampir, pada Kamis (26/01/2023) berlangsung meriah. Menyusul unjuk kebolehan kelompok seni karawitan Margahayu, di sesi penutup acara pertemuan dengan warga tersebut.

Diiringi alat musik tradisional gamelan, Anas Karno turut menyanyikan beberapa lagu campursari.

“Ternyata masih ada warga Surabaya yang peduli terhadap kesenian tradisional. Tidak hanya peduli, kelompok warga ini juga bersemangat untuk melestarikan,” ujar Anas Karno.

Lebih lanjut Legislator Fraksi PDIP tersebut mengatakan, kesenian tradisional merupakan kearifan lokal yang menjadi soko guru budaya bangsa.

“Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri meminta para kader PDIP agar memperkuat jati diri nasional dalam bidang kebudayaan,” imbuhnya.

Anas menambahkan,kelompok karawitan kampung, merupakan salah satu esensi pokok Trisakti yang digagas oleh Bung Karno dalam pembumian ideologi Pancasila.

“Jadi sudah seharusnya kesenian tradisional dilestarikan. Bukan hanya oleh warga tetapi juga pemerintah kota. Karena kita berharap pemerintah kota punya perhatian terhadap kelompok kesenian karawitan ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Tugimin ketua Margahayu mengatakan, kelompok karawitan yang beranggotakan warga RW 02 Medokan Semampir itu, sudah hampir memasuki usia 2 tahun. Sejak terbentuk dimasa pandemi untuk mengisi waktu luang warga ketika PPKM.

Lebih lanjut Tugimin mengatakan, mereka berlatih seminggu sekali di Balai RW 02 atas ijin ketua RW setempat.

“Awalnya anggota tidak bisa memainkan gamelan. Mulai nol semua. Kami mendatangkan pelatih,” imbuhnya.

Menurut Tugimin seluruh kegiatan Margahayu dibiayai secara swadaya. “Setiap latihan kita ada iuran per anggota Rp 25 ribu. Tiap pertemuan seminggu sekali kita bayar pelatih Rp 250 ribu. Sehingga kalau sebulan sebesar Rp 1 juta. Sedangkan perangkat gamelan disediakan oleh pelatih,” jelasnya.

Tugimin menambahkan, meski baru terbentuk setahun lebih, namun kelompoknya sudah beberapa kali tampil dimuka umum.

“Diantaranya beberapa kali di gereja, kemudian di Muhammadiyah Sutorejo. Dan nanti mau tampil juga di acara sedekah bumi di desa kami,” ujarnya.

Tugimin mengaku prihatin, terhadap nasib kesenian tradisional, yang saat ini tidak lagi populer di masyarakat. “Khususnya untuk anak-anak muda. Padahal kita sudah mengenalkan dengan setiap kali kami latihan di balai RW, tapi mereka masih enggan untuk ikut,” terangnya.

Tugimin juga berharap perhatian dari Pemkot Surabaya. “Kalau ada bantuan kita terima. Misalnya bantuan perangkat gamelan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *