Janji dan Topeng Monyet, Realita Dalam Cerpen Karya Hamid Nabhan

SURABAYA (Suarapubliknews) – ‘Janji-janji yang terlontar di dunia politik adalah air pelepas dahaga bagi orang yang haus’ ungkap penyair, pengarang serta pelukis Surabaya Hamid Nabhan dalam buku cerpen terbarunya berjudul janji. Dalam buku setebal 36 halaman ini menceritakan tentang dua calon pemimpin yang berkampanye melalui orasi di hadapan publik

Dicerpen ini ada dua tokoh yang ditampilkan yaitu Kabun dan Jabus, keduanya saling berebut hati publik yang akan memberi suara. Keduanya sama-sama mengobral janji muluk untuk memakmurkan rakyat. kenyataannya hingga kini janji – janji para pemimpin itu biasanya terlupakan setelah mereka memenangkan pemilihan.

Dalam pengantar bukunya Prof jakob sumardjo mengatakan meskipun berbau klise namun tangan sastrawan yang berpengalaman topik klise bisa menjelma menjadi sebuah cerpen yang segar dan menarik. “Karena temuan-temuan khasnya dalam mengamati dan mendalami janji-janji calon pemimpin pemerintahan terutama ketika isu ini sedang hangat atau aktual ada rasa kedekatan yang akan dialami pembaca,” katanya.

Sementara dalam cerpen lain bertajuk Mimpi memperlihatkan suatu keutuhan secara teknis yaitu menggambarkan suatu kejadian tunggal tentang sebuah mimpi. Keutuhan cerita dalam satu nuansa mendorong pembaca untuk menafsirkannya. Mimpi dapat ditafsirkan sebagai memiliki makna ramalan akan apa yang akan terjadi pada si Pemimpi juga lama dan banyak diketahui orang.

“Banyak kisah dalam kitab suci atau ajaran agama yang menunjukkan bahwa mimpi adalah petunjuk Ilahi terutama bagi orang tertentu Namun orang Jawa memiliki kepercayaan bahwa mimpi kembangnya wong turu mimpi hanya Bunga Tidur pepatah jawa ini sejalan dengan apa yang dikatakan para ilmuwan di zaman ini yaitu Bahwa dream just a bubble, mimpi hanyalah gelembung kosong belaka,” ungkap Jakob.

Cerpen ini nadanya agak berpihak pada pandangan para ilmuwan Jawa cerita ada kutipan dari pengarang betapa mimpi sudah menjadi ancaman betapa rapuhnya sebuah kedudukan kemudian dilanjutkan di negeri yang merdeka orang bebas untuk bermimpi dari sini taulah kita maksud dari cerpen ini yaitu menggambarkan kenyataan hidup dunia sosial politik dalam sebuah mimpi

Hamid Nabhan sendiri mengatakan kedua buku tersebut berisi cerpen satire atau sindiran seperti pada cerita topeng monyet saya menyindir kerakusan yg dilakukan manusia yg mencuri uang negara berkoper koper dibandingkan dengan kerakusan monyet yang mencuri karena perut mereka.

“Yang paling rakus di muka bumi bukanlah monyet atau hewan yang lain tetapi justru manusia yang berakal monyet dan hewan yang lain mencuri karena kebutuhan perut sedangkan manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya dan hawa nafsu adalah makhluk yang paling menyeramkan dan tak pernah kenyang,” kutipnya.

Dijelaskan proses pembuatan buku bervariasai seperti cerpen topeng monyet diselesaikan hanya semalam sedang janji memakan waktu satu minggu. “Selama pandemi saya sudah menyelesaikan 6 buku serta tiga buku masih dalam proses Masing masing kedua buku ini saya cetak 1500 exp dalam tiap judulnya,” ungkap Hamid.

Selama pandemic Hamid tetap rajin melukis karena banyaknya waktu dan digunakan untuk berkarya “Ya selagi banyak waktu karena psndemi pergunakanlah untuk berkarya bagi yg berkarya dan banyaklah membaca dengan membaca akan menambah wawasan kita,” tutupnya. (q cox, tama dinie)

Reply