SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Pengalaman bersantap di Surabaya kini tidak hanya mengandalkan sajian di atas meja. Shangri-La Surabaya menghadirkan Le Petit Chef, pengalaman immersive dining berbasis 3D projection mapping yang memadukan teknologi visual, storytelling dan gastronomi dalam satu pertunjukan.
Hadir di Sapore Osteria, Le Petit Chef membawa karakter chef animasi berukuran hanya beberapa sentimeter yang seolah-olah muncul di atas piring tamu. Karakter tersebut kemudian menjalani perjalanan kuliner secara virtual dan “menyiapkan” hidangan sebelum sajian sebenarnya dihadirkan oleh tim kuliner hotel.
Konsep tersebut membuat meja makan berfungsi sekaligus sebagai layar pertunjukan. Melalui teknologi projection mapping, cerita divisualisasikan langsung di permukaan meja, mengikuti perjalanan sang chef kecil menjelajahi berbagai lanskap imajinatif, mulai dari taman hijau hingga kedalaman laut.
Setiap babak cerita kemudian diikuti dengan hadirnya hidangan yang berkaitan dengan alur visual tersebut. Dengan demikian, pengalaman makan tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga menggabungkan unsur visual dan cerita untuk membangun pengalaman multisensori.
General Manager Shangri-La Surabaya, Gurpreet Gulati, mengatakan Le Petit Chef membawa konsep bersantap ke bentuk yang berbeda dengan mempertemukan seni kuliner dan teknologi. “Le Petit Chef bukan sekadar pengalaman makan malam, melainkan sebuah perjalanan luar biasa yang menggabungkan seni kuliner dengan teknologi inovatif,” ujarnya.
Pengalaman tersebut berlangsung di Sapore Osteria, restoran Italia milik Shangri-La Surabaya, melalui rangkaian menu multi-course yang terinspirasi dari cita rasa global. Sajian disiapkan oleh tim kuliner hotel dan disajikan mengikuti alur pertunjukan animasi.
Konsep Le Petit Chef sendiri telah dikenal di berbagai hotel dan restoran mewah di sejumlah kota besar dunia. Ciri utamanya adalah penggunaan proyeksi visual di atas meja yang disinkronkan dengan penyajian makanan, sehingga hiburan dan pengalaman fine dining berlangsung dalam satu rangkaian.
Di Surabaya, pengalaman tersebut mulai diperkenalkan pada 5 Agustus 2026 dengan durasi sekitar 90 menit untuk setiap sesi. Kehadirannya menawarkan bentuk baru pengalaman kuliner di kota ini, ketika teknologi tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi bagian dari cara sebuah hidangan diperkenalkan dan dinikmati.
Dengan memadukan visual, cerita dan makanan, Le Petit Chef menunjukkan bahwa perkembangan industri kuliner tidak selalu berakhir pada penciptaan menu baru. Cara makanan dihadirkan kepada tamu juga dapat menjadi bagian dari pengalaman gastronomi itu sendiri. (feb, tama dini)












