Legislator PDIP Surabaya Minta Pemprov Jatim Hentikan Penerapan PSBB

SURABAYA (Suarapubliknews) – Dinilai gagal menekan penyebaran COVID-19 di Surabaya, John Thamrun anggota Komisi B DPRD Surabaya meminta kepada Pemprov Jatim agar menghentikan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya yang meliputi Kota Surabaya, sebagian Sidoarjo dan Gresik.

Menurut politisi PDIP ini, penerapan PSBB tahap kedua yang berlaku sampai 25 Mei juga tidak akan efektif menekan penyebaran virus corona di Kota Pahlawan sehingga tidak perlu lagi memperpanjang penerapan PSBB.

“Seharusnya Pemprov hentikan PSBB di Surabaya. Pemprov perlu mendengarkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Bu Risma yang paling tahu, dengarkanlah apa yang disampaikan. Supaya apa yang dilakukan Pemprov berkesinambungan,” ujarnya, Senin (11/5/2020).

John Thamrun selaku anggota komisi yang membidangi perekonomian, menegaskan bahwa penerapan PSBB tahap pertama justru menimbulkan dampak kepada perekonomian di Surabaya, sementara hasilnya tidak efektif.

“PSBB itu kaitannya dengan dua hal, kesehatan dan perekonomian. Kesehatan yaitu penyebaran tidak bisa dikurangi, tetapi dampak ekonominya luar biasa besar. Ini siapa yang tanggung jawab, apa bisa mengembalikan kondisi ekonomi,” katanya.

John Thamrun menilai, penerapan PSBB tahap kedua ini akan memperparah kondisi ekonomi di Surabaya. Dia berharap penerapan protokol kesehatan ini harus mempertimbangkan aspek ekonomi yang sangat terdampak.

“Dua hal (kesehatan dan ekonomi) ini harus diperhatikan dengan sungguh, karena setiap protokol kesehatan berdampak terhadap perekonomian,” ungkapnya.

Menurutnya, penerapan PSBB tidak perlu menyeluruh, cukup dengan parsial saja. Contoh, jika ada pedagang pasar suspect corona, maka tidak perlu pasar itu ditutup total. Cukup dengan mengisolir stand pedagang yang positif corona tersebut.

“Contoh satu tempat terpapar dan disitu ada bagian kecil, maka yang diisolir ya bagian kecil itu, misal stand pedagang itu bukan pasarnya,” jelasnya.

John Thamrun menjelaskan, virus corona tidak menyebar lewat udara. Karenanya, dengan mengisolir stand tersebut sudah cukup.

“Virus corona tidak terbang kemana-mana, dia melekat ke benda, durasinya bervariasi, sesuai dengan standar WHO dua hari, jadi cukip stand itu diisolasi dua hari,” tegasnya.

Dia menegaskan, seharusnya penerapan PSBB didahlui dengan pengenalan budaya masyarakat di Surabaya. Physical distancing tidak hanya dengan PSBB. Physical distancing bisa juga dengan cara lain seperti disiplin pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak.

“Bu Risma sudah menyampaikan sering cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak. Nah 60 persen masyarakat Surabaya sudah menjalankan itu. Tiga hal ini dijalankan tentu penyebaran corona bisa teratasi tanpa PSBB,” pungkasnya. (q cox)

Reply