Luncurkan Digitarasa, Ikut Bangun Ekosistem Bisnis Kuliner

SURABAYA, (Suarapubliknews) – Berbekal kemauan dan kreativitas bisnis kuliner ini dapat menjadi tumbuh besar. GoFood bersama Digitaraya meluncurkan program Digitarasa untuk menyasar usaha mikro kecil Surabaya yang ingin mengembangkan bisnis kuliner hingga mendapatkan akses permodalan.

Strategic Regional Head Gojek Jatim dan Bali Nusra, Leo Wibisono mengatakan selama 5 tahun menjadi growth partner mitra UMKM kuliner sangat memahami tantangan yang dihadapi merchant dalam mengembangkan usaha termasuk manajemen bisnis, pemasaran dan permodalan.

”Potensi UMKM di Indonesia sangat besar bahkan 99% telah menopang ekonomi secara real, termasuk di wilayah Surabaya yang punya budaya foody alias makan. Surabaya jadi fokus kami karena Surabaya punya budaya UMKM yang sangat kuat dan merupakan nafas ekonomi Jatim. Di sini juga banyak influencer bidang kuliner, jadi Surabaya sangat penting bagi bisnis Gojek ke depan,” katanya.

VP of GoFood Strategy New Revenue Gojek, Brata Santoso menambahkan hingga saat ini program Digitarasa sudah ada 1.850 pendaftar dari seluruh Indonesia, dan sebanyak 180 orang merupakan dari Surabaya yang akan mengikuti seleksi untuk mendapatkan program pelatihan, pendampingan dan akses modal.

“Pendaftaran masih akan terus dibuka sampai 6 Maret 2020. Kalau melihat animo masyarakat, banyak yang ingin daftar dan ingin naik kelas,” ujarnya.

Dia menambahkan jumlah pendaftar tersebut juga termasuk para mitra Gojek/GoFood. Hanya saja, belum diketahui berapa banyak peserta yang merupakan mitra Gojek. Hingga saat ini jumlah mitra GoFood sudah mencapai 500.000 mitra.

CEO Digitarasa, Arnold Poernomo menjelaskan, Digitarasa sendiri merupakan perusahaan akselerator yang membantu UMKM mengembangkan bisnis kuliner mulai memberi pelatihan, pendampingan, hingga memberikan akses permodalan.

“Digitarasa ingin melahirkan bisnis food and beverage agar memiliki UMKM bidang ini bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional, karena yang kita tahu makanan di mal saat ini masih didominasi oleh brand asing,” katanya.

Selama ini banyak kendala yang dihadapi start up kuliner dalam mengembangan bisnisnyan di antaranya seperti sulit menemukan target market dan sulit menemukan partner yg sesuai, termasuk akses mendapatkan modal.

“Bukan hanya itu, kadang ada orang bisa masak tapi belum tentu bisa jadi a good business owner, atau ada orang berinvestasi di bisnis F&B tapi enggak ngerti dunia F&B,” tegas pria yang sering dipanggil Chef Arnold ini..

Menurutnya, start up kuliner jangan hanya bervisi pada hobi masak, atau hanya mengikuti tren karena hal itu dipastikan tidak akan sustainable. Pengusaha perlu tau visi dan misi dalam mengembangkan sebuah bisnis kuliner. “Kami ingin ada breakthrough untuk mental yang seperti ini, mental hanya mengikuti tren,” imbuhnya.

Tahun ini Digitarasa rnenjalankan 4 batch dengan target peserta sebanyak banyaknya. Program Digitarasa terbuka bagi pelaku bisnis kuliner dengan produk siap jual untuk dipasarkan, dengan usaha yang dibangun sendiri (bukan franchise).(q cox, Tama Dinie)

Reply