Mahasiswi UK Petra Raih Juara dalam Surabaya Fashion Designer Award 2020

SURABAYA (Suarapubliknews) – Dua orang mahasiswi Program Studi Desain Fashion dan Tekstil (DFT) UK Petra berhasil menjadi juara dalam Surabaya Fashion Designer Award 2020 yang merupakan rangkaian agenda tahunan Surabaya Fashion Parade (SFP) ke-13.

Mereka adalah Tiffany yang berhasil meraih juara 2 dan Auke Kurnia Septianingrum Azalya meraih juara 5. Peserta finalis kompetisi kategori umum kali ini berjumlah 20 orang yang berasal dari Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tiga desainer senior bertindak sebagai juri memutuskan lima pemenang. Juri tersebut adalah yaitu Stella Lewis, Yuliana dan Yunita Kosasih.

Mengangkat tema Awekening, Tiffany Ubah Limbah Plastik Menjadi Berharga, sebagai Ornamen Karya Busananya Membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan, Ia mengerjakan desain ini.

Baju ini menggambarkan seorang putri kerajaan dengan kehidupan serba mewah tetapi secaara tiba-tiba harus menjadi pemimpin bagi rakyatnya. Kekreatifan,keuletannya, dan sifat pantang menyerahnya tersebut membuatnya dapat membangun kembali pemerintahan dalam kerajaan tersebut.

Pakaian ini ditujukan untuk wanita muda yang aktif dalam beraktifitas. Dapat digunakan untuk acara spesial pada siang hingga sore hari. “Penggunaan aplikasi recycle bunga dari plastik karena tetap ingin memperlihatkan sisi elegant, kreatif, keberanian dan kepintaran dari seorang putri,” katanya.

Ia mengumpulkan botol plastik yang sudah tidak digunakan kemudian dipotong kecil-kecil. Setelah itu, ia bakar diatas api kemudian dijahit ke baju bersama dengan manik-manik. “Saya ingin mengurangi pencemaran lingkungan sehingga muncullah ide ini.” terang Tifaany.

Sementara Avke Kurnia Septianingrum Azalya Padu Padankan Limbah Tekstil dengan Kain Tenun asal NTT Bermula dari kegemarannya bermain game abad pertengahan, akhirnya Auke Kurnia Septianingrum Azalya terinspirasi membuat desain baju bernuansa Indonesia Heritage dengan judul Sustainable Dysto-Tenun War.

“Saya mencoba pakaian dari game itu di crossover kan dengan kain tekstil tenun yang berasal dari NTT. Saya membutuhkan waktu desain kurang lebih dua minggu kemudian proses penjahitannya memakan waktu kurang lebih 1 bulan. Pembagian waktu dan sempat berubah ide lah yang menjadi kendalaku,” katanya.

Pakaian ini dapat digunakan untuk acara formal, bisa juga digunakan untuk pesta. Suasananya meriah memunculkan sisi etnik dari indonesia itu sendiri yaitu kain tenun. Uniknya selain menggunakan teknik creative fabric atau anyaman, Auke menambahkan unsur sustainable.

”Syal yang saya pakai bekas, tak hanya itu kain tenunnya merupakan bekas taplak meja. Ditambah lagi outer kain hitam yang saya pakai merupakan baju yang dulu tidak jadi saya gunakan. Sehingga saya bisa mengurangi sampah tekstil,” tutup Auke.

Reply