Malang Raya Bersiap Menuju New Normal

SURABAYA (Suarapubliknews) – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Malang Raya hanya berlangsung selama satu kali, yakni mulai 17-31 Mei 2020. Hal ini karena seluruh stakeholder di Malang Raya berhasil menerapkan protokol kesehatan dengan baik, sehingga PSBB tersebut hanya cukup sekali dan dilanjutkan masa transisi.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, masa transisi wilayah Malang Raya dilakukan selama 14 hari dengan hitungan setiap 7 hari dilakukan evaluasi. Dua hari lalu, kata Dia, pihaknya melakukan evaluasi berdasarkan peta terakhir yang dirilis oleh Bersatu Lawan Covid (BLC).

“Kita sampaikan bahwa posisi Kota Batu dan Kota Malang berada di zona kuning. Artinya ini risiko rendah tapi belum masuk dalam kategori zona hijau,” tuturnya pada Senin, (22/6/2020).

Sedangkan Kabupaten Malang, lanjut Khofifah, masuk dalam kategori zona orange. Artinya risiko sedang yang mana secara bertahap bisa melakukan aktivitas ekonomi, perdagangan dan pariwisata dengan catatan SOP protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan.
Dengan adanya persiapan new normal di wilayah Malang Raya, Khofifah menaruh perhatian di beberapa sektor. Pertama, pasar-pasar tradisional.

Menurutnya, pasar-pasar tradisional di Malang Raya (kota maupun kabupaten batu) relatif sudah menerapkan protokol-protokol kesehatan.

“Mengingat pasar trasdional selalu didatangi pengunjung setiap harinya, maka harus terus dikawal,” ujarnya.

Lebih lanjut di sektor wisata termasuk di dalamnya perhotelan. Agar tidak kecolongan, Pemkab Batu menerapkan test SWAB untuk daerah epicentrum kemudian rapid untuk daerah lain.

“Saya pikir ini merupakan cara dari kepala daerah untuk bisa memproteksi pengunjung sehingga dapat berwisata dengan aman,” ucap Khofifah.

Sementara dari sektor pendidikan, proses pembelajaran di pesantren bersiap memulai aktivitas belajar mengajar seperti biasanya. Khofifah menuturkan bahwa pada dasarnya pesantren merupakan lembaga yang memiliki otoritas. Artinya, bagaimana proses belajar dan interaksi diantara mereka, termasuk menerapkan kurikulum di dalamnya.

“Ada pesantern yang mendapatkan wasiat dari pendahulunya bahwa memulai pelajaran disediakan pada pertengahn bulan syawal. Saya melihat sangat arif dan sangat hati-hati. Para pengasuh pesantren (kemarin) memberikan kesempatan kepada santri baru dengan skala terbatas untuk masuk karena pesan dari leluhur beliau,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, beberapa pesantren yang sudah didatangi bersama Pangdam dan Kapolda sesungguhnya sudah melakukan dengan sangat hati-hati dan mereka rata-rata mengatakan menunggu hingga ada green light. Artinya, memastikan bahwa lokasi belajar mengajar yang akan digunakan benar-benar aman.

“Mungkin lokasi pesantren kategori zona kuning atau per kecamatan masuk zona hijau tapi santri nya dari mana-mana. Kemudian para santri yang datang rata-rata ponpes memberikan beberapa persyaratan salah satunya selesai melakukan rapid test,” katanya.

“Persyaratan-persyaratan itu terus di update pengasuh ponpes karena aktivitas para santri sangat intensif sekali sehingga kehatia-hatian dan kewaspadaan dari pengasuh ponpes sejatinya sudah sangat ketat dan mereka sebagian besar belum memastikan waktu untuk mengembalikan santri ke pondok,” lanjutnya.

Adapun Pemprov Jatim telah memberikan bantuan alat kesehatan kepada 168 Pondok Pesantren berupa masker kain, sprayer elektrik (alat penyemprot disinfektan), baju hazmat (alat pelindung diri), thermal gun (alat pengukur suhu badan), hand sanitizer, lysol, kacamata goggle, face shield, sepatu boot, tempat cuci tangan, dan sarung tangan latex. Tidak itu saja, semua pondok juga diberi vitamin C, paket sembako dan dompet kesehatan Covid-19. “Paket-paket ini sudah di informasikan bahwa ini adalah dukungan dari pemprov,” pungkas Khofifah. (q cox, Domi)

Reply