Merah Putih Akulturasi Lambangkan Indonesia  Pulih Lebih Cepat Dan Bangkit Lebih Kuat

SURABAYA (Suarapubliknews) – Mengangkat kekuatan Akulturasi atau pembauran, Desaigner asal Surabaya, Embran Nawawi menampilkan karya seni Instalasinya berupa Dummy (patung fashion setengah badan) yang dililit kain berwana merah dan putih sepanjang 4 meter dengan teknik sticked and glued atau direkatkan dan di lem hingga kaku yang membentuk gerakan kain berputar seolah bendera yang tertiup angin.

Disisi lain Embran Nawawi membuat bendera merah putih yang fashionable dengan menggunakan material fashion flalr untuk kain merah dan kain fur untuk warna putih. Bentuk motif bergelombang dan berundak menyimbolkan Indonesia yang terdiri dari lautan dan daratan yang makmur.

Fahion draping yang juga merupakan keahlian Embran Nawawi dalam karya fashionnya tampil elegan dengan sayap burung garuda draping blouse dan outer, pada model berwajah arabic dan oriental untuk memperkuat konsep pembauran atau acculturation tersebut.

“Dengan tagline kemerdekaan Indonesia ke-77 yaitu Pulih Lebih Cepat Dan Bangkit Lebih Kuat, saya terjemahkan dengan dengan membuat warna putih untuk pria sebagai kekuatan fisik bisa pulih lebih cepat dan merah untuk wanita sebagai simbol fisikologis atas bangkit lebih kuat, karena menurutnya bahwa kekuatan seorang pria di keluarga terdapat sosok wanita yang mendorongnya,” terangnya.

Tak hanya itu, bersama Royal Tulip Darmo Surabaya, Ia melakukan gebrakan baru dengan menyajikan karya yang seni instalasi dengan dipadu padankan oleh kuliner yang menggambarkan kemerdekaan.

“Acara ini melambangkan begitu beragamnya etnis yang ada di Indonesia yang masih bisa menjaga kerukunan, bertoleransi sesuai dengan butir Pancasila yaitu Persatuan Indonesia,” tutup Embran

Marketing Communication Manager Royal Tulip Darmo Surabaya, M. Daniyal Faqih mengatakan hidangan yang disajikan meliputi berbagai macam jajanan traditional dari berbagai daerah, dan  tumpeng merah putih dengan 17aneka sate dari 8 daerah yang ada di Indonesia. (Q cox, tama dini)

Reply