Nguri-nguri Budaya Luhur Jawa, Njamas Keris di 1 Suro

SURABAYA (Suarapubliknews) – Bagi etnis jawa, era milenial tidak berarti bisa meninggalkan budaya luhur peninggalan nenek moyang dengan cara nguri-nguri (melestarikan) yang tersisa, yang salah satunya adalah pusaka keris yang merupakan senjata ampuh di masanya.

Budi Mulyono sang kolektor keris asal Kota Surabaya yang memliki puluhan jenis keris mulai dari yang berukuran mini, hingga yang paling besar seukuran betis orang dewasa, secara rutin melakukan ritual jamas koleksi kerisnya dengan mendatangkan seorang pawang di bidang jamas pusaka keris.

“Untuk melestarikan tradisi dan menjaga peninggalan dari leluhur-leluhur kita,” kata Budi. Jumat (29/07/2022) malam.

Sang pawang bernama Slamet asal Trenggalek yang kini berdomisili di Kedinding Lor Surabaya, melakukan proses jamas dengan cara mencuci, mengeringkan, melumasi dengan minyak, hingga memasang partikel-partikel yang sebelumnya dibongkar ketika hendak melakukan tradisi ‘Kejawen’ tersebut.

Slamet membenarkan, pusaka yang dimiliki Budi tergolong ‘Epic’. Sebab, berasal dari era Majapahit, Mataram, sampai Singosari dan diperkirakan sudah berusia sekitar 1800 tahun Sebelum Masehi (SM).

Menurutnya, setiap keris yang dimiliki Budi memiliki keistimewaan masing-masing. Pun dengan tekstur atau pamor masing-masing. “Ibaratnya tulisan, jadi yang kita baca pada setiap keris itu ya pamor,” ujarnya.

Slamet menyatakan, umumnya pusaka keris di Jawa dicuci setahun sekali. Biasanya, pencucian atau pemandian keris pada bulan-bulan Suro, begitu pula dengan aneka ritual penyertanya.

Kata Slamet, ia kerap menemukan sejumlah hal yang tidak masuk akal ketika sedang memandikan keris. Misalnya, ia pernah merasa keris tersebut terasa sangat berat meski ukurannya sekitar 30 cm saja. Lalu, ada batang atau pangkal keris yang sukar dibuka kecuali oleh orang-orang ‘pilihan’.

“Kalau dulu, keris kan untuk melawan atau menghindar dari musuh seperti manusia sampai makhluk yang tidak kelihatan, kalau dulu kan sebagai prasarana. Sekarang, sebagai penunjang strata, apalagi kita hidup di Jawa istilahnya menyatu dengan alam,” tuturnya.

Menurut Slamet, keris yang sering dijumpai di pasaran maupun kolektor adalah jenis Blojol, Tilampupil, sampai Tilamsari. Sebab, rakyat zaman dahulu, di hampir setiap kepala keluarga memilikinya. Sedangkan, yang paling sulit ditemui adalah Nogososro.

“Nogososro itu pusaka khusus orang-orang ningrat, tidak semua orang punya. Misalnya, ada yamg punya marga besar, ya sesuai dengan kerisnya, biasanya yang punya keris itu punya silsilah kraton,” tuturnya.

Dalam merawat keris dan pusaka serupa, Slamet mengaku juga menjalankan beberapa ritual. Mulai dari menyiapkan bunga 7 rupa, kopi, hingga rokok. “Setiap orang kan beda-beda cara, bukan berarti kita memuja-muja, tapi meneruskan tradisi nenek moyang,” katanya.

Lantas, bagaimana antusiasme dan pemandian pusaka khas Jawa selama pandemi Covid-19? “Di musim pandemi ini, tidak kayak dulu, mungkin ya agak takut (peminat yang memandikan). Setiap pusaka pasti punya kekuatan masing-masing, karena dulu diciptakan untuk beragam hal,” ujar dia.

Slamet berkisah, ada beragam kejadian unik ketika tengah memandikan pusaka milik orang lain. Beberapa tahun lalu, ka mengaku pernah membuka keris dalam keadaan setengah badan pusaka berwarna merah.

“Dulu, separuh ini (keris) merah dan separuh hitam, itu kejadian di Gresik. Biasanya, kalau seperti itu dulunya setiap tahun ada perjanjian, dulu pernah kayak kena racun selama kita mencuci pusaka, warnanya agak ke merah-merahanan, biasanya itu tergantung yang merawat,” tutur dia.

Meski begitu, ia mengaku tak kapok. Menurutnya, apa yang telah dilakukannya selama ini demi melestarikan dan mendalami ilmu dari peninggalan nenek moyang serta tradisi.

Dikutip dari wikipedia, Keris merupakan senjata tikam golongan belati asal dari Jawa yang memiliki ragam fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, sering kali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah.

Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

Keris telah terdaftar dan diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia yang berasal dari Indonesia sejak 2005.

Reply