OJK : Hadapi Tantangan Kompetisi BPR Harus Lebih Adaptif dan Kreatif

BANYUWANGI (Suarapubliknews) – Industri BPR dihadapkan pada berbagai macam tantangan dengan tingkat kompetisi yang semakin ketat dan kompleks dengan berkembangnya perusahaan fintech yang memanfaatkan teknologi dalam menawarkan produk dan layanannya.

Hal ini disampaikan Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono saat Evaluasi Kinerja BPR periode Semester I tahun 2019 dan Workshop Penerapan Manajemen Risiko BPR yang mengangkat tema “Penerapan Manajemen Risiko untuk Mendorong Kinerja BPR di Jawa Timur.

Heru Cahyono meminta agar BPR mampu lebih adaptif dan kreatif dalam mengembangkan produk dan layanan kepada masyarakat dengan memanfaatkan teknologi yang didukung SDM yang kompeten.

“Seiring dengan perkembangan industri BPR yang ditunjukkan oleh berkembangnya jumlah jaringan kantor serta kompleksitas produk dan aktivitas, OJK Kantor Regional 4 Jawa Timur mendorong BPR untuk mengimplementasikan manajemen risiko yang dapat disesuaikan dengan kelompok kegiatan usaha dan kompleksitas usahanya,” katanya.

OJK berharap melalui sosialisasi dan implementasi SEOJK No.1/SEOJK.03/2019 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi BPR, menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kelembagaan dan meningkatkan reputasi industri BPR sesuai dengan arah kebijakan pengembangan BPR dalam rangka menciptakan sektor keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil serta memiliki daya saing yang tinggi.

“Concern mengenai pentingnya penguatan modal bank untuk meningkatkan kapabilitas SDM dan pemanfaatan teknologi informasi agar dapat bersaing di tengah kompetisi yang ketat dan kompleks dan mengingatkan agar BPR mengupayakan sejak dini kewajiban pemenuhan modal inti minimum yang harus dipenuhi pada akhir tahun 2019,” tambah Heru.

Pangsa aset BPR konvensional terhadap industri perbankan di Jawa Timur mencapai 2,36%, sedangkan pangsa DPK sebesar 1,67% dan kredit 2,13%. Meskipun pangsa BPR konvensional relatif rendah namun mencatatkan pertumbuhan volume usaha yang baik sebesar 5,42% (yoy) menjadi Rp14 Triliun, DPK 6,2% (yoy) menjadi Rp9,3 Triliun dan Kredit 6,81% (yoy) menjadi Rp10,3 Triliun.

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat Jawa Timur terhadap perbankan dan khususnya BPR masih terjaga dengan baik. Industri BPR di Jawa Timur diharapkan dapat berperan aktif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur terutama pada sektor UMKM.

OJK akan mendorong pertumbuhan kredit industri BPR di Jawa Timur dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian mengingat NPL BPR konvensional di wilayah Kantor OJK Regional 4 sebesar 8,26%.

Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2019 diproyeksikan 5,2% (yoy) dan pada triwulan I tahun 2019 terealisasi 5,07% (yoy), sementara inflasi terjaga di 3,32% (yoy). Selain itu, Indonesia dinilai positif di komunitas global. Rating investment Indonesia cukup baik dengan daya saing global yang terus meningkat, dimana S&P pada akhir Mei 2019 menaikkan rating Indonesia menjadi “BBB” dengan outlook stabil.

Sementara ekonomi Jawa Timur pada triwulan I – 2019 tumbuh 5,51% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional (5,07%) dengan tingkat inflasi sebesar 2,70% (yoy) lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (3,32%).

Sejalan dengan hal tersebut, sektor jasa keuangan di Jawa Timur juga mencatatkan kinerja yang positif, tercermin dari peningkatan volume usaha perbankan 8,22% (yoy) menjadi Rp593,9 Triliun yang ditopang oleh pertumbuhan DPK sebesar 8,32% (yoy) menjadi Rp554,7 Triliun dan Kredit sebesar 8,99% (yoy) menjadi Rp482,4 Triliun. (q cox, Tama Dinie)

Reply