Perjuangan Hak Atas Tanah Tujuh Ahli Waris Satoewi Mulai Ada Titik Terang

SURABAYA (Suarapubliknews) – Perjuangan keluarga petani Almarhum Satoewi melalui ketujuh ahli warisnya di Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya sudah sampai pada proses Pembuktian. Selanjutnya adalah Pemeriksaan Setempat. Dalam daftar bukti yang diajukan oleh Kantor Pertanahan Surabaya I (Kantah Surabaya I), 2 (dua) di antaranya adalah Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 495 dan 496.

Terkait hal tersebut, Kuasa Hukum ketujuh Ahli Waris dari Alm. Satoewi dari kantor hukum Litiga-at-law, Immanuel Sembiring, mengatakan jika pihaknya telah menyampaikan hal itu.

“Kita sudah sampaikan terkait hal tersebut (Sertifikat No. 495 dan 496) ketika Tergugat II Intervensi memohonkan diri untuk masuk. Bahwa gugatan ahli waris ini tidak ada hubungannya dengan pembatalan hak (Sertifikat) dari siapapun. Masuknya PT. Artisan Surya Kreasi tersebut sungguh tidak relevan,” ucap Immanuel Sembiring. Rabu (19/082/2020) lalu.

Immanuel menegaskan jika pihaknya
Pada dasarnya meminta hak, bukan untuk meniadakan hak-hak pihak lain jika memang berhak.

Menurut dia, pada awal masuknya Tergugat II Intervensi (PT. Artisan Surya Kreasi), yang sebelumnya menjadi Pemohon Intervensi, Kuasa Hukum Ahli Waris Almarhum Satoewi sudah menyatakan untuk menolak masuknya Pemohon Intervensi tersebut.

“Alasannya tentu saja bahwa gugatan
Ahli Waris Almarhum. Satoewi ini terkait Surat Kantor Pertanahan Surabaya I Nomor 1203/600-
35.78/III/2020 yang pada pokoknya menolak untuk menerbitkan Sertifikat Hak Milik yang sejatinya hak dari Ahli Waris Almarhum Satoewi,” tandasnya.

Terus berjuang, lanjut Immanuel, ahli Waris Almarhum Satoewi sudah sampai pada proses Pemeriksaan Setempat yang akan dilakukan Selasa, 25 Agustus 2020 mendatang, Ahli Waris yakin bisa menunjukkan tanah yang
menjadi haknya tersebut dan meminta Kantah Surabaya I untuk menunjukkan tanah yang Ehdiklaim sudah terbit SHM di atasnya.

“Pethok dan Persilnya sudah
berbeda. Bagaimana mungkin bisa berada pada satu hamparan yang sama? Pemeriksaan setempat pada dasarnya adalah pemeriksaan atau sidang yang dilakukan oleh Majelis Hakim di tempat objek yang sedang disengketakan,” tuturnya.

Dengan dilakukannya Pemeriksaan Setempat, Kuasa Hukum Ahli Waris AlmarhumWaris Satoewi yakin bahwa hal tersebut bisa membuka titik terang.

Hal tersebut termaktub dalam Pasal 153 Ayat (1) HIR yang pada intinya
menyatakan bahwa hasil dari Pemeriksaan Setempat tersebutlah yang dipakai hakim dalam
mengambil keputusan.

“Selasa besok tanggal 25 Agustus 2020, kita akan hadirkan saksi serta meminta Kantah Surabaya I untuk menunjukkan dengan jelas posisi SHM 495 dan 496 tersebut. Nah di sana pasti kelihatan bahwa tanah Ahli Waris berbeda dengan SHM 495 dan 496 jika memang Pethok dan Persilnya berbeda. Lha wong beda (Pethok dan Persil) kok bisa bidangnya sama?” terang Immanuel.

Tentunya, masih Immanuel, titik terang ini yang nantinya akan membuat Kantah Surabaya I mau untuk menerbitkan SHM atas tanah Ahli Waris tersebut.

Harapan Ahli Waris tentu saja agar fakta dapat terungkap di Pemeriksaan Setempat. Sehingga Majelis Hakim pun dapat memutus bahwa Ahli Waris dapat menerbitkan sertifikat atas tanahnya tersebut,” tambahnya.

Menurut dia, dengan terbitnya Sertifikat Hak Milik tersebut tentu membuktikan bahwa Kantah Surabaya I sungguh tidak membedakan besar-kecilnya rakyat dalam mendapatkan hak atas tanah.

“rakyat kecil sekalipun berhak untuk memiliki sertifikat hak milik atas tanahnya, bukan hanya para pemilik modal besar,” pungkasnya. (q cox)

Reply