Sambut Datangnya Ramadhan, Jatim Siapkan Berbagai Agenda Ramadhan Berbasis Daring

SURABAYA (Suarapubliknews) – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1441 H, ada tradisi masyarakat Jawa Timur yang tidak bisa ditinggalkan yaitu Megengan. Dimana, tradisi ini biasa dilakukan dengan kue khas Ramadhan berupa Apem.

Namun demikian, di tengah adanya pandemi covid-19 maka kegiatan masyarakat sangat dibatasi khususnya untuk menggelar Megengan. Apalagi, semua perkumpulan massa juga tidak diperkenankan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan menyambut akan datangnya Ramadhan, Megengan tetap dilaksanakan namun online dan melibatkan beberapa kepala daerah di Jatim. Diantaranya, Bupati Pamekasan, Bupati Lumajang, Bupati Jombang, Bupati Madiun, dan Bupati Trenggalek.

“Sambutan datangnya Ramadhan Megengan harus tetap kita lakukan, dan di tengah pandemi covid-19 maka metode Megengan Online adalah salah satu pilihan,” katanya.

Sebagai penanda bagi masyarakat akan datangnya Ramadhan akan disiapkan 1441 Apem. Jumlah ini sengaja dipilih karena  tahun kalender Hijriyahnya adalah 1441. “Apem ini artinya Afwun dan Afwun yaang artinya permaafan. Sehingga menjelang Ramadhan kita diharapkan saling memaafkan. Ini juga merupakan bentuk memaksimalkan habluminannas atau hubungan baik dengan manusia,” urai Khofifah.

Selain itu, selama bulan Ramadhan, Jatim juga telah menyiapkan berbagai agenda Ramadhan yang berbasis daring atau online. Setiap jam 7 sampai jam 8 pagi akan dilaksanakan tadarus online. Yang akan menghadirkan 5 orang penghafal Qur’an. Harapannya, masyarakat bisa mengikuti dari rumah masing-masing karena tadarus online ini dilakukan secara murottal.

Kemudian, pada sore harinya akan dilaksanakan lomba sholawat online. Yang boleh diikuti oleh berbagai kalangan, baik kelompok laki-laki, kelompok perempuan mulai remaja, dewasa hingga anak-anak. Sehingga, melalui kegiatan ini diharapkan keinginan masyarakat untuk keluar rumah bisa dicegah. Karena, banyak kegiatan kreatif yang bisa dilakukan meski dari rumah.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi alternatif bagi masyarakat untuk ngabuburit tanpa harus keluar rumah atau bisa disebut ngabuburit online,” imbuhnya.

Menurut mantan Menteri Sosial ini, pelibatan anak-anak dalam setiap kegiatan Ramadhan online dari rumah akan bisa menjadikan rumah sebagai pesantren Ramadhan bagi anak. Terlebih, dalam kegiatan daring tersebut nantinya juga akan ada kajian-kajian agama Islam dari beberapa narasumber baik ekonom,  pendidik maupun kajian  agama.

“Kurikulumnya sudah kita siapkan dengan matang. Inilah format-format pelaksanaan Ramadhan di saat pandemi covid-19 yang kami siapkan. Harapannya, masyarakat tetap bisa menikmati kekhusyukan Ramadhan dari rumahnya masing-masing,” pungkas Khofifah. (q cox, tama dinie)

Reply