Sebut Tak Ada Label ‘Warna Merah Tua’ di Panduan BNPB, M.Fikser: Tanyakan saja apa maksudnya

SURABAYA (Suarapubliknews) – Pemkot Surabaya acuhkan pelabelan warna merah tua (pekat) dalam peta persebaran virus Corona di wilayah Kota Surabaya, yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Pernyataan ini disampaikan M. Fikser Kepala Dinas Kominfo Kota Surabaya yang juga Wakil Koordinator Gugus Tugas bidang Humas, jika pihaknya hanya mengenal pelabelan warna yang dikeluarkan oleh BNPB (pusat).

Menurut Fikser, pelabelan warna penyebaran virus Corona yang keluarkan BNPB adalah Hijau untuk level 1, Kuning untuk level 2, Orange untuk level 3, dan Merah untuk level 4, yang dalam keterangannya adalah sbb:

  • Level 1 (aman) warna hijau, resiko penyebaran covid ada tadpi tidak ada kasus,
  • Level 2 (resiko ringan) warna kuning, penyebaran terkendali tetap pada kemungkinan transisi lokal,
  • Level 3 (resiko sedang) warna orange, penyebaran dan potensi virus tidak terkendali,
  • Level 4 (resiko tinggi) warna merah, penyebaran virus tidak terkendali.

“Biarkanlah Pemkot Surabaya ngurusi orang agar sembuh, dalam epidemiologi kesehatan itu tidak ada merah tua (pekat) apalagi warna hitam. Tapi ada yang lebih penting, yakni bagaimana cara mengatasi masalah ini,” ujarnya dengan nada tinggi. Kamis (4/6/2020),

Menurut Fikser, warga Surabaya sangat paham, apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya. “Warga Surabaya itu mengerti, jika ada warga yang sakit, pasti Pemerintah Kota yang mengurusi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengemukakan, jika indikator Surabaya pada peta laporan penyebaran kasus Covid-19 tersebut sebenarnya berwarna merah tua, bukan hitam. Lantaran banyak kasus penularan yang terjadi di Ibu Kota Provinsi Jatim tersebut.

“Itu bukan hitam, tapi merah tua. Seperti Sidoarjo yang angka kasusnya 500 sekian merah sekali. Kalau angkanya 2.000 sekian, merah tua,” kata Khofifah. (q cox)

Reply