Serahkan Dua Alat Konsentrator Oksigen di RSUD Besuki Situbondo, Wagub Emil Harap Jadi Penunjang Percepatan Tangani Covid-19

SITUBONDO (Suarapubliknews) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyerahkan 2 Alat Konsentrator Oksigen di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Besuki, Kab Situbondo.

Penyerahan tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan Covid-19 di wilayah Kab. Situbondo. Apalagi mengingat, Kab. Panarukan – sebutan lain Kab. Situbondo tersebut sangat jauh dari pusat penyediaan oksigen cair.

“Tentunya keberadaan alat ini menjadi penting. Mudah-mudahan bermanfaat meskipun jumlahnya terbatas. Nanti jika sudah ada stok lagi akan segera kami serahkan ke Situbondo kembali,” katanya.

Wagub Emil yang hadir didampingi Bupati Situbondo, Wakil Bupati Situbondo, Direktur RSUD Besuki, Ketua PC NU Situbondo, dan Kabid Pemerintahan Bakorwil V Jember tersebut menyampaikan apresiasinya kepada Pemkab Situbondo atas kerjasama yang baik untuk menangani Covid-19. “Apresiasi ini saya sampaikan karena dalam 5 hari terakhir, kumulatif angka kesembuhan signifikan melebihi kasus tambahan baru,” ujarnya.

Tren kasus Covid-19 di Kab. Situbondo yang semakin membaik harus diiringi dengan pendataan kontak erat atau tracing sesuai persyaratan Kemenkes RI. Sembari menunjukkan data SiLacak, Emil menunjukan kepada awak media grafik penurunan kasus konfirmasi yang semakin menurun. “Penurunan kasus konfirmasi sudah masuk ke Level 2, sedangkan untuk kasus kematian masih dalam Level 3 atau 4 tapi menunjukan tren penurunan yang sama,” jelasnya.

Sementara berdasarkan data Dinkes Jatim per Jumat (13/8), angka kumulatif kasus positif di Kab. Situbondo mencapai 6.854 kasus. Sedangkan untuk total kasus sembuh sebanyak 5.614 dan 813 kasus meninggal. Hingga kemarin, tercatat sebanyak 428 kasus aktif.

Atas tren penurunan kasus yang signifikan itu, Emil mengimbau kepada masyarakat di Kab. Situbondo agar tidak lengah. “Tolong jangan lengah, berhati hati lah dengan situasi ini,” tegasnya.

Penyebaran kasus Covid-19, utamanya varian Delta perlu diwaspadai oleh pemerintah daerah. Terlebih bagi masyarakat yang tengah terkonfirmasi positif dan yang sedang melakukan isolasi mandiri (isoman).

“Jangan sampai kondisi sudah semakin menurun baru datang ke layanan kesehatan, ini bahaya. Harapannya puskesmas bisa memantau saturasi oksigen pada masyarakat yang isoman. Mencegah terjadinya hipoksia (kekurangan oksigen) tanpa sadar,” imbau Emil.

Terkait banyaknya masyarakat Kab. Situbondo yang terpengaruh beragam hoax membuat capaian vaksinasi perlu ditingkatkan. Emil mencontohkan, bagaimana banyak santri yang tersebar di beberapa pesantren di Kab. Situbondo tidak mau menerima vaksin karena orang tuanya yang percaya hoax.

“Indikasi sebenarnya ada 2, terlalu percaya hoax atau tidak percaya dengan kondisi tubuhnya sendiri. Untuk indikasi yang kedua bisanya mereka jarang melakukan tes kesehatan,” lanutnya.

Oleh karena itu, Ia meminta kepada para tenaga kesehatan (nakes) yang ada di puskesmas setempat untuk melakukan tes kesehatan kepada masyarakat agar mereka mengenali kondisi dirinya masing-masing. “Kita sadar kalau masyarakat sebegitu takutnya terhadap vaksin, dan dipaksa vaksin maka sugestinya juga tetap. Kita perlu orang yang yakin untuk melakukan vaksin ini,” tukasnya.

Emil pun mengajak masyarakat di Kab. Situbondo untuk menyadari pentingnya vaksinasi. Sedang bagi masyarakat yang tidak mau divaksin, maka dimungkinkan pergerakannya akan dibatasi.

“Karena mereka (yang belum divaksin) berpotensi untuk terpapar dengan kondisi yang memburuk bisa terjadi dan nantinya dapat sanksi dengan dilarangnya melakukan beberapa aktivitas di tempat yang resiko penularannya tinggi,” tambahnya.

Ikhtiar pemerintah terkait percepatan vaksinasi dan perluasan capaiannya menjadi sangat penting. Yakni untuk memastikan kesehatan masyarakat setidaknya bisa terkendali dengan baik.

“Mudah-mudahan vaksinasi di Situbondo dengan ketelatenan pemkab, insyaallah pelan-pelan bisa meningkat dan masyarakat juga tergerak melakukan vaksin. Kab. Situbondo yang mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani menjadi hal yang patut disyukuri. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. Namun masih ada sendi-sendi perekonomian lain yang terdampak,” harapnya.

Emil menyampaikan, sesuai amanah Gubernur Jatim terkait bantuan kepada masyarakat yang tidak terdaftar pada penerimaan bantuan sosial (Bansos), Program Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan lain yang berasal dari pemerintah pusat melalui Kementerian terkait, Emil meminta  Bupati Situbondo segera melakukan pendataan.

“Akan disiapkan untuk 2.000 masyarakat yang tidak menerima bantuan Bansos/PKH. Hanya satu kali disalurkan. Jadi kalau insidentil, jaring pengaman sosial ini bisa digunakan. Mungkin tidak terlalu besar jumlahnya, tapi bisa untuk menambali kekurangan yang tidak terdata di pusat,” tutunya.

Sementara itu, Bupati Situbondo Karna Suswandi menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Jatim yang telah memberikan bantuan untuk percepatan penanganan Covid-19 di wilayahnya.

“Kita berharap support yang seperti ini akan terus ada kedepannya. Mengingat lokasi Situbondo jauh dari supplier oksigen yang ada di Surabaya. Karena, kalau kita pengirimannya seperti yang dulu ketika kasus Covid meningkat tajam, kami tentu kuwalahan (kerepotan) Bantuan alat ini tentu sangat bermanfaat bagi kita, utamanya untuk menekan angka kematian akibat Covid-19 di Situbondo,” katanya. (q cox, tama dinie)

Reply