BisnisJatim Raya

Tahun ke 15, SFP Angkat Tema Synchronize

53
×

Tahun ke 15, SFP Angkat Tema Synchronize

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) – Surabaya Fashion Parade (SFP) kembali digelar tahun ini. Mengambil tema Synchronize, ajang fashion tahunan terbesar di Surabaya itu bakal diselenggarakan di Convention Hall Plasa Tunjungan III lantai 6 pada 5-9 Oktober mendatang.

Founder dan penggagas SFP Dian Apriliana Dewi, tahun ini adalah tahun ke-15 SFP diselenggarakan. Awalnya SFP diadakan sebagai kado ulang tahun Kota Surabaya. Karena itu biasanya diselenggarakan pada bulan Mei. Namun akibat pandemi COVID-19, terpaksa SFP harus mundur.

”Setiap tahun SFP harus hadir. Tidak boleh tidak dalam kondisi apa pun. Ini untuk kali ke dua penyelenggaraan SFP mundur jadi akhir tahun. Karena pandemi, jadwalnya disesuaikan dengan kebijakan Pemkot Surabaya, kapan boleh diselenggarakan,” katanya.

Dian berharap, kehadiran SFP bisa menjadi wadah bagi para fashion designer, fashion people dan pelaku industri fashion untuk berkreasi menghadirkan karya mereka. “Tahun ini kami tetap bekerja sama dengan Indonesian Fashion Chamber, kerjasama dengan organisasi itu sudah dilakukan sejak tahun 2017,” tambahnya.

Total ada sekitar 100 desainer yang akan menampilkan karyanya. Termasuk desainer tamu dari Jakarta, seperti Deden Siswanto, Itang Yunasz, Ali Charisma Raegitazoro dan Khanaan. ”Sebenarnya banyak desainer yang ingin berpartisipasi. Namun karena keterbatasan waktu, kami harus melakukan kurasi baik tema maupun koleksi, sehingga bisa dipilih desainer yang memang layak,” terangnya.

Ketua Penyelenggara SFP2022 Alben Ayub Andal, tahun ini tema yang diangkat adalah Synchronize. ”Tahun ini adalah tahun di mana kita harus hidup dengan cara baru setelah mengalami pandemi COVID selama dua tahun. Karena itu harus bisa mensinkronisasikan kondisi,” katanya.

Synchronize akan diterjemahkan oleh para desainer dalam empat hari. Di antaranya Incubator Show yang menampilkan para desainer berprestasi yang baru memulai karirnya, Moslem, Evening Gown dan Urban.

Ada tiga tema besar yang akan ditampilkan, yakni busana muslim, evening gown, dan urban wear. “Di sini kami mengemas tema busana tersebut menjadi satu kesatuan dan tidak mengkotak-kotakan ini sendiri, ini sendiri tapi jadi satu kesatuan,” lanjutnya

Busana yang ditampilkan tersebut akan menampilkan warna berani dengan gaya kekinian yang disukai anak muda. “Tren fashionnya memang seperti itu, jadi evening gown, baju muslim model sudah sangat anak muda dan bisa digunakan kegiatan sehari-hari,” tandasnya.

Selain itu yang special di tahun ini adalah hadirnya seorag desainer yang masih berusia belasan tahun. “Bisa dibilang masih anak – anak malah, dia merancang busana tak hanya untuk seusianya namun juga untuk dewasa. Desainer dari bandung ini akan menampilkan karya – karya dala dua sesi, untuk dewasadan anak-anak,” tutupnya. (Q cox, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *