Tak Terima Paslon no 2 Dituding Minor, Ini Ungkapan Geram Arif Fathoni di Medsos

SURABAYA (Suarapubliknews) – Ketua DPD Partai Golkar Surabaya, Arif Fathoni SH mengaku geram dengan berbagai tudingan miring terhadap pasangan calon (paslon) nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman (MAJU).

Pengakuan ini disampaikan Arif Fathoni saat dikonfirmasi awak media terkait postingan status di akun FB pribadinya, yang mengeluhkan soal munculnya tudingan bahwa paslon no dua hanya akan merusak kota apabila terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Surabaya pada Pilkada 9 Desember 2020 mendatang.

Berikut beberapa kutipan tulisan Toni-sapaan akrab Arif Fathoni, di akun FB pribadinya, yang bernuansa kritikan tajam dan diunggah pada hari ini, Senin (19/10/2020),:

”Orang mau membangun kota secara adil dan merata kau bilang mau merusak apa yang sudah dibangun, hatimu terbuat dari apa? apa karena tertutupi kehendak sang tuan pemilik tanah oloran di timur Surabaya/,”

”Orang mau membangun Pasar Tunjungan yang mati, kau bilang mau merusak kota? lalu hatimu terbuat dari apa hingga tidak melihat jeritan para pedagang dan pernak perniknya?”

”Orang mau kasih dana pembangunan Rp 150 juta per tahun ke RT kau bilang mau merusak kota, lalu hatimu terbuat dari apa atas jeritan warga yang tidak mendapatkan layanan infrastruktur dasar secara merata?,”

”Sebenarnya hatimu terbuat dari apa? hingga hobimu hanya marah, nangis dan bersujud bukan kepada Tuhan YME,”

Kepada awak media, Toni menyampaikan adanya upaya penjegalan dari penguasa Surabaya saat ini dengan menggiring opini masyarakat bahwa kalau bukan pilihannya maka Walikota ke depan hanya akan merusak apa yang sudah dibangun.

”Ini sama sekali tidak benar dan jahat sekali mempermainkan psikologi massa untuk kepentingan kekuasaan dengan mencitrakan pesaing hanya akan merusak program-program yang sudah berjalan,” katanya.

Menurut Toni, niatan yang tulus dari pasangan Machfud Arifin-Mujiaman (MAJU) bersama rakyat membangun Kota Surabaya. Sebab, dari sisi ekonomi dan ambisi kekuasaan, kedua orang tersebut sudah tuntas. Sehingga, dirinya memastikan keduanya benar-benar tulus mengabdi.

Dia menegaskan, akan menjadi aneh ketika muncul sosok lain (paslon Ma-Mu) yang ingin memajukan Kota dengan melibatkan partisipasi semua lapisan masyarakat, namun disebut hendak merusak kota.

”Orang mau bawa pembangunan kota dengan melibatkan semua pihak, kau bilang mau merusak kota, lalu hatimu terbuat dari apa, hingga dengan siapapun wakilmya kau campakan,” ujarnya.

Toni juga mengaku heran ketika program MA-Mujiaman untuk memberikan Rp 1 juta per Kepala Keluarga (KK) apabila kelak terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota tetap dituding hendak merusak kota. Sementara saat ini, banyak KK yang belum mendapat bantuan meski sudah diusulkan para Ketua RT. Akibatnya, para Ketua RT dikejar oleh warganya. (q cox, Gtr)

Reply