Terkait Tindakan Kekerasan Guru di SMPN 49, A.H Thoni: Harus dilihat dari sisi keduanya

SURABAYA (Suarapubliknews) – Rekaman video tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap siswanya di SMPN 49 Surabaya telah viral di berbagai medsos dan telah memicu komentar yang beragam dari berbagai pihak. Bahkan belakangan, dikabarkan juga jika orang tua siswa yang menjadi korban kekerasan oknum guru telah membawa kasusnya ke ranah hukum.

Menurut pandangan A.H Thoni Wakil Ketua DPRD Surabaya, penggalan rekaman video yang viral tersebut masih harus dilakukan pendalaman dan kajian yang komprehensif, dengan cara melihat dari sisi keduanya.

“Saya melihat dari postingan video yang viral, dipihak siswa kelihatannya sedang berdiri sepertinya dapat hukuman. Seorang guru yang menyuruh siswanya berdiri di kelas itu saya pikir sudah hukuman, dan harusnya selesai. Tetapi jika tiba- tiba muncul tindakan dari guru seperti itu. Dari bahasa tubuh sepertinya ada yang memicu hingga guru tersebut lepas kontrol,” ucap A.H Thoni kepada media ini, sembari menunjukkan video yang viral tersebut. Minggu (30/01/2022)

Padahal seharusnya, kata Thoni, terhadap siswa itu seperti anak sendiri. Kasih sayang dan bersikap lemah lembut. Kalau sampai bersikap seperti itu, layaknya seperti sedang berantem dengan orang yang sangat menyakiti. Padahal, sekalipun dengan penjahat yang tindakannya menyakiti, bisa saja tidak seperti itu. Maka melihatnya tidak saja di sisi Guru terhadap siswa, namun sebaliknya juga harus dilihat dari sisi siswa, kenapa sampai bisa memancing sikap guru seperti itu.

“Saya ini mantan guru (dosen), jadi saya bisa merasakan langsung. Artinya, harus dilihat dari sisi keduanya secara komprehensif, bagaimana track record guru dan siswa tersebut. Jadi masih perlu adanya kajian secara lengkap. Artinya jangan tergesa-gesa memutuskan,” tandasnya.

Politisi Partai Gerindra ini mengaku jika dirinya masih sering bertemu dengan teman-temannya sesama guru untuk saling bertukar pikiran dan diskusi soal dunia pendidikan.

“Sebagai mantan guru, saya sehari-hari masih juga bertemu dengan guru. Rata rata mereka lebih baik memilih sikap skeptis daripada harus mempertaruhkan karirnya. Jika ada anak (siswa) yang salah, mereka tidak mau lagi menegur, karena ada resiko dilaporkan, sehingga lebih baik diam.

“Ini bagi saya adalah sebuah ancaman bagi masa depan pendidikan juga anak itu sendiri. Karena tidak mengerti etika dan motivasi belajar dan sebagainya,” ujarnya.

Untuk itu, kepada para orang tua (wali murid), Thoni meminta agar tidak mengedepankan subyektifitas diri sebagai orang tua meski itu wajar.

“Sebagai contoh, anak kita itu dikatakan salah atau jelek, itu kita bisa marah, meskipun itu fakta. Saya juga mengalami. Apalagi sampai disakiti. Hal ini akibat subyektif ortu itu memang sangat melekat,” jelasnya.

Thoni memperkirakan, jika insiden tersebut bisa jadi merupakan dampak dari upaya para guru untuk melakukan transformasi ilmu, dari yang sebelumnya pembelajaran daring ke tatap muka.

“Ini perkiraan saya saja. Untuk itu, kepada semua pihak sebaiknya harus memiliki data yang lengkap terkait keduanya. Karena masih diperlukan kajian terhadap fakta- fakta yang sebenarnya,” pungkasnya. (q cox)

Reply