Tiga Mahasiswa ITS Manfaatkan Produk Samping Sintesis Biodiesel

SURABAYA (Suarapubliknews) – Produksi minyak jelantah akibat konsumsi minyak goreng yang meningkat di masyarakat diperkirakan mencapai 20 ribu ton setiap tahunnya. Beberapa pihak telah memanfaatkan minyak jelantah ini sebagai biodiesel, tetapi crude glycerol yang merupakan produk sampingnya masih terbuang begitu saja.

Tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), yakni Gardini Nilasari, Annisa Putri Agustin dan Dewi Septiningtyas, produk tersebut dikonversi menjadi asam laktat melahirkan sebuah inovasi untuk mengkonversi limbah tersebut menjadi asam laktat yang bermanfaat.

Koordinator Tim, Gardini Nilasari mengatakan penelitian ini awalnya merujuk pada menumpuknya crude glycerol di Laboratorium Instrumentasi dan Sains Analitik di Departemen Kimia ITS.

Produk tersebut merupakan produk samping dari proses transesterifikasi minyak jelantah pada sintesis biodiesel. “Kalau dibuang akan menyebabkan limbah baru, padahal tujuan awal pemanfaatan minyak jelantah ini untuk mengurangi limbah,” katanya.

Crude glycerol sendiri memiliki tingkat kemurnian dan nilai ekonomi yang rendah, sehingga perlu dimanfaatkan dengan cara dikonversi menjadi beberapa produk. Produk tersebut antara lain adalah asam formiat, asam oksalat, asam gliserat, 1,2-propanadiol, serta asam laktat.

Pemilihan asam laktat sebagai hasil konversi, dikarenakan pemanfaatannya yang masif dalam industri. Hal ini membuat jumlah permintaan asam laktat semakin banyak dan diprediksi akan mencapai 1,96 juta ton pada tahun 2025 nanti.

“Asam laktat pun berpotensi digunakan sebagai bahan plastik poly lactic acid (PLA) yang mudah terurai, sehingga mendukung tujuan Sustainaible Development Goals (SDGs), yaitu menjaga ekosistem laut dan darat,” terangnya.

Mengenai proses konversinya, menggunakan metode konversi katalitik hidrotermal dengan katalis Ni/grafit. Metode tersebut dipilih dengan hipotesis akan diperoleh hasil asam laktat yang tinggi dibandingkan metode konvensional (fermentasi). Serta, tidak diperlukan proses purifikasi untuk crude glycerol sehingga lebih efisien dan waktu yang diperlukan untuk reaksinya juga relatif cepat.

Produksi asam laktat dengan katalis (zat untuk mempercepat reaksi) nanopartikel Ni/grafit memiliki tingkat konversi dan selektivitas tinggi, karena Ni/grafit berukuran nano dan luas permukaannya besar.

Dalam metode tersebut, perlu adanya penambahan natrium hidroksida untuk menciptakan suasana basa. Crude glycerol sendiri sudah memiliki derajat keasaman yang berkisar antara 8,93 sampai 9,4 yang tergolong sebagai basa, sehingga masalah dalam metode tersebut dapat terselesaikan. “Sebagai informasi tambahan, derajat keasaman yang tinggi tersebut didapatkan dari sisa katalis basa pada proses transesterifikasi,” papar Gardini.

Pandemi Covid-19 menjadikan adanya transformasi data dan target luaran pada penelitian ketiga mahasiswa bimbingan Dr Hendro Juwono MSi ini. Pada awalnya, bahasan terkait dengan komposisi crude glycerol minyak jelantah, hasil konversi katalitik gliserol menjadi asam laktat, serta rasio gliserol dan natrium hidroksida akan dibahas berdasarkan data primer dan uji laboratorium.

Dengan kreativitas yang dibawanya, Gardini beserta tim berkesempatan menjadi salah satu bagian dari kontingen ITS di Pimnas ke-33 dan berhasil menyabet emas di kategori presentasi PKM Penelitian Eksakta.

Gardini berharap selanjutnya akan ada mahasiswa yang tertarik dengan topik ini dan dapat melakukan pengujian di laboratorium, terutama terkait dengan optimasi parameter reaksi atau hal lainnya yang mendukung. “Sehingga sesuai dengan rencana pengembangan yang kami paparkan, produksi asam laktat dan aplikasi pemanfaatannya untuk menjadi PLA pada skala industri,” tandasnya. (q cox, tama dinie)

Reply