Tinjau Banjir di Kab. Gresik, Wagub Emil Apresiasi Penanganan Banjir oleh Pemkab Gresik

GRESIK, (Suarapubliknews) – Dampak jebolnya tanggul di beberapa titik di Kab. Gresik hingga membanjiri pemukiman warga mendapat perhatian serius Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak.

Untuk mengetahui secara dekat kondisi yang terjadi di lapangan, Wagub Emil meninjau dampak banjir yang terjadi di Desa Bengkelolor, Kecamatan Benjeng dan Desa Cermen, Kecamatan Kedamean, Kab. Gresik.

Melihat kesiapa-siagaan itu, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengapresiasi penanganan banjir yang sudah dilakukan. Mulai memperkuat tanggul hingga normalisasi sungai menggunakan alat berat.

“Sebuah apresiasi karena Pemkab Gresik tidak tidur menghadapi ini. Penaggulangan dan normalisasi sudah dijalankan Pemkab Gresik sejak Oktober awal. Langkah-langkah itu terus kita tingkatkan dan kita dorong,” katanya.

Didampingi perwakilan petugas dari Pemprov Jatim dan Pemkab Gresik, Wagub Emil melihat posko pengungsian yang sudah disiapkan. Tak hanya itu, dirinya juga melihat kesiapan para petugas Dapur Umum yang disiapkan BPBD Pemprov Jatim bekerjasama dengan Pemkab Gresik.

Jebolnya Tanggul di Desa Bengkelolor, Kec. Kedamean, Kab. Gresik menjadi penyebab utama terjadinya banjir. Setidaknya total ada 13 tanggul yang jebol. Empat alat berat sudah dikerahkan untuk memperkuat tanggul di Kab. Gresik.

Sedangkan alat berat milik Pemprov Jatim masih diperbantukan untuk menangani banjir bandang yang terjadi di Kota Batu. “Kita cari solusi bagaimana mobilisasi alat berat untuk penanganan sekitar 13 tanggul di Kab. Gresik,” ujarnya.

Upaya melakukan penanganan-penanganan darurat di Kali Lamong, harus dilakukan secara bertahap. Karena skalanya dinilai cukup besar. “Kalau di total, penanggulangan dilakukan sekitar 100 km. Menanggul 100 km merupakan proyek yang sangat besar,” tutur Wagub Emil.

Menurut Wagub Emil, penanganan banjir di Kali Lamong harus dilakukan secara bertahap. Pada prinsipnya, menangani sungai dimulai dari hilir hingga hulu. Dengan kata lain, sebut Emil, dimulai dari titik-titik yang paling urgent. “Berdasarkan pemetaan yang paling darurat, dimulai dari Desa Jono, Kecamatan Cerme, berlanjut ke Desa Tambakberas, kemudian ke Desa Morowudi,” jelasnya.

Sementara terkait wacana pompa yang disarankan Bupati Gresik dengan menggunakan pengaturan air, Ia menjelaskan, bahwa di beberapa daerah memiliki perbedaan karakter banjirnya.

Wagub Emil mencontohkan di Kab. Batu. Kondisi di wilayah tersebut dinilai karena sedimentasi atau hutan yang gundul. Lalu di Kota Surabaya karena tampungan drainasenya meluap melebihi kapasitas.

“Sementara di Kab. Gresik berbeda, karena sungai tidak mampu menampung debit air yang ada. Namun, pemerintah pusat sedang melaksanakan tugas untuk mengatasi tanggul. Memang semua ini masih proses,” jelasnya.

Wagub Emil menambahkan, bahwa saat ini, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS) juga akan membantu persoalan yang sedang dialami Kab. Gresik. “Mereka akan mendatangkan alat berat untuk membantu sekaligus menguatkan tanggul yang jebol,” tandasnya.

Selain normalisasi sungai dan memperkuat tanggul, BPBD Jatim sudah melakukan penanganan lain diantaranya membuka posko kesehatan di setiap puskesmas dan puskesmas pembantu wilayah kecamatan yang terdampak banjir. Disamping itu juga melakukan evakuasi warga di wilayah terdampak banjir, dan membuka dapur umum serta pemberian bantuan paket sembako dan makanan siap saji.

Sementara berdasarkan data BPBD Jatim per Senin, (8/11) jumlah warga yang mengungsi sebanyak 403 orang. Rinciannya, sebanyak 21 balita, 77 anak-anak, 273 orang dewasa dan 32 lansia. Kemudian jumlah kecamatan yang terdampak banjir sebanyak 5 kecamatan terdiri dari Kecamatan Balongpanggang, Kecamatan Benjeng, Kecamatan Cerme, Kecamatan Menganti dan Kecamatan Kedamean. Sementara jumlah rumah yang terdampak sebanyak 2.211 rumah. (q cox, tama dinie)

Reply