Usut dan Cegah Pembuangan Limbah di Sungai, DPRD Sidoarjo Panggil DLHK dan Perusahaan

SIDOARJO (Suarapubliknews)– Komisi A dan C DPRD Sidoarjo memanggil perwakilan perusahaan terkait dugaan pembuangan limbah pada Avour Semampir yang menyebabkan bau menyengat dan sungai hitam pekat. Dalam pembahasannya, PT. Rachbini Leater diduga menjadi pelaku pembuangan.

Selain dari PT. Rachbini Leater hadir juga Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Camat Sedati, Kelurahan Sedati Gede, Sedati Agung dan Pabean dan perwakilan masyarakat setempat. Ketua Komisi A DPRD Sidoarjo Subandi, mengatakan bahwa pihaknya, meminta saluran pipa pembuangan limbah sementara dinon aktifkan.

“Saya minta saluran pembuangan dtutup sementara, karena saluran tersebut belum memiliki ijin,” Kata Subandi Ketua Komisi A saat ditemui di Ruang Rapat DPRD Sidoarjo, Rabu (11/03/ 2020).

Ketua Komisi C Suyarno meminta pihak perusahaanya segera melakukan perbaikan secara benar dalam pengelolaan limbah. Pihak perusahaan juga harus bisa menunjukan hasil lab akhir dari pengelolaan limbah tersebut nantinya.

“Sementara dari kemarin PT. Rachbini Leater selalu mengelak bahwa limba tersebut bukan dari pabriknya. Saya juga meminta DLHK benar-benar melakukan pengawasan yang melekat, jangan sembrono,” kata Suyarno.

Sementara sebagai Legal Eksekutif PT. Rachbini Leater Adhy Samsetyo Djoko Lelono yang mengaku sebagai Legal Eksekutif Perusahaan tersebut mengatakan bahwa yang membuang limbah ke Avour itu bukan hanya dari perusahaannya saja.

Adhy Samsetyo yang juga tercatat sebagai sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo itu menambahkan, bahwa sejak januari 2020 pihaknya tidak pernah memproduksi bahan mentah, hanya memproduksi bahan setengah jadi.

“Yang membuang bukan hanya dari PT. Rachbini,” kilah Adhy Samsetyo

Untuk mengetahui secara pasti dari limbah tersebut DLHK sudah mengambil sampel untuk di Uji di Laboratorium, karena memang pencemaran ini sudah yang ketiga kalinya. “kira-kira hasilnya nanti satu minggu lagi,” jelas Sigit Setyawan Kepala DLHK Sidoarjo.

Sementara perwakilan masyarakat sangat merasa dirugikan dan mengeluhkan adanya limbah tersebut, produksi padinya menurun, dari yang sebelumnya 10 ton perhektar, sekarang menjadi 7 ton. Selain itu air limbahnya juga membuat gatal-gatal dan bau menyengat. (q cox, drie).

Reply