Wagub Emil Optimis Konektivitas Selingkar Wilis Timur dan Barat dapat Pemerataan Pembangunan Di Jatim

SURABAYA (Suarapubliknews) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan bahwa keterhubungan antara kawasan Selingkar Wilis sisi timur dan barat bisa menjawab tantangan di seputar pemerataan pembangunan di Jatim.

Wagub Emil menyebutkan, sisi timur dan barat Gunung Wilis memiliki keterkaitan. Dan sebagaimana ditekankan dalam Perpres No. 80 tahun 2019, strategi perkembangan selingkar wilis memang ditujukan untuk akselerasi.

“Gunung Wilis ini kawasan yang punya potensi. Inilah yang kemudian kita harap dapat menciptakan konektivitas dan akses lebih mudah di atas dan di bawah lereng,” sebutnya ketika memjadi Keynote Speech dalam Jagongan Madiun Raya yang diselenggerakan secara virtual di Ruang Kerja Wagub Jatim Jl. Pahlawan, Kamis (3/11).

Ia memaparkan, jalur yang terkoneksi antara sisi timur dan barat Selingkar Wilis ini akan membuka akses terhadap industri padat karya yang potensial di daerah sekitarnya. Salah satunya, wilayah Ngawi dan Kertosono.

“Strategi percepatan pembangunan ini difokuskan pada peningkatan nilai tambah hasil agroindustri dan agrowisata melalui penyediaan infrastruktur pendukung yang menghubungkan lokasi potensial dengan pusat pertumbuhan,” ungkapnya.

Ia pun melanjutkan, bahwa Jatim bagian barat memerlulan adanya akselerasi yang lebih cepat. Selain akses dan konektivitas yang terus digenjot, Wagub Jatim ini berharap agar kerjasama antar pemerintah daerah terkait pembangunan dapat terwujud demi kesejahteraan masyarakat.

Pasalnya, setelah masalah infrastruktur terjawab, tantangan seputar aspek sosial dan ekonomi masyarakat akan terjawab pula.

“Realisasi akselerasi dengan Selingkar Wilis akan menjawab tantangan kita, untuk makin menyukseskannya, kami harap pemerintah daerah dapat saling berkolaborasi dan membangun kerjasama yang baik juga. Diperlukan strategi dengan pendekatan melalui aspek sosial dan ekonomi juga, mengikuti tantangan infrastruktur yang sudah terjawab,” imbuhnya. (Q cox, tama dini)

Reply