Women’s History Month, Promosikan Hak Perempuan dan Anak

SURABAYA (Suarapublinews) – Amerika Serikat berkomitmen untuk kesetaraan gender, inklusi sosial, dan memajukan status perempuan dan anak perempuan. Dalam gelaran Womens History Month, Konsulat Jenderal AS di Kota Surabaya menghadirkan tiga alumni dari program International Visitor Leadership Program .

Acting Consul General United States of America di Surabaya, Angie Mizeur mengatakan bahwa negaranya sangat berkomitmen membahas kesetaraan gender, inklusi sosial, serta memajukan status perempuan dan anak-anak khususnya anak perempuan.

“Kami sangat berkomitmen dan peduli dengan kesetaraan gender, inklusi sosial, juga ikut memajukan status perempuan dan anak-anak khususnya perempuan. Dalam rangka itu, kami mendukung upaya pertukaran alumni mempromosikan kesetaraan perempuan, melindungi hak-hak perempuan,” katanya.

Ketiga alumni IVLP adalah Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang, Yuliati Umrah; Wakil Ketua Presidium Nasional Jaringan Keadilan Sosial Indonesia, Lusia Peilouwi; dan pengacara sekaligus penasihat Bali Women Crisis Center, Ni Nengah Budawati.

Program International Visitor Leadership Program (IVLP) adalah program pertukaran profesional utama Departemen Luar Negeri A.S. Melalui kunjungan jangka pendek ke Amerika Serikat, para pemimpin asing saat ini dan yang baru muncul di berbagai bidang mengalami sendiri negara ini dan memupuk hubungan yang langgeng dengan rekan-rekan Amerika mereka.

“Program pertukaran kami ini memperkuat hubungan orang-ke-orang antara Amerika Serikat dan Indonesia. Alumni yang berpartisipasi hari ini adalah pemimpin di bidangnya. Mereka menggunakan pelajaran yang mereka pelajari dan cara yang mereka kembangkan selama pertukaran mereka di Amerika Serikat untuk membuat dampak positif di komunitas mereka,” lanjut Angie Mizeur

Selain alumni IVLP, ketiga narasumber secara spesifik melakukan advokasi dan penelitian terkait dengan hak-hak perempuan serta anak-anak. Yuliati Umrah pada paparannya menyoal bagaimana perempuan terpinggirkan oleh banyak hal, dan anak-anak khususnya anak perempuan yang terlibat masalah seks.

Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang, Yuliati Umrah mengatakan seharusnya masyarakat menyadari bahwa persoalan itu bisa menimpa siapa saja. Termasuk menimpa kerabat, dan anak-anak serta mereka yang ada dilingkungan.

“Karena itu, sudah saatnya semua orang mulai menyadari hak-hak perempuan serta menjaga martabat anak-anak agar terhindar dari pelecehan maupun kekerasan,” katanya

Untuk itu, Yuliati mengajak semua orang termasuk para perempuan untuk sejak dini, sejak awal memberikan berbegai edukasi menyangkut hal-hal yang bersifat pribadi menyangkut anak-anak seperti misalnya pengenalan tentang mana yang boleh dilihat atau disentuh dan mana yang tidak boleh.

“Ini penting. Pendidikan atau edukasi sepertinya memang harus dilakukan sejak dini, sejak masih berada di rumah hingga akhirnya nanti mereka ini, anak-anak ini tumbuh dan menjadi besar, dengan bekal pengetahuan apapun, termasuk pengetahuan tentang hal-hal pribadi. Seringkali masyarakat kita tidak mengaggap itu sesuatu yang penting. Diabaikan,” tambah Yuliati.

Diskusi tidak terbatas pada saling bertukar informasi diantara nara sumber dan peserta, tetapi juga melibatkan sejumlah pihak di sejumlah kota di Indonesia secara virtual dari Ambon, Bali, Banyuwangi, Jember, Maumere dan Malang untuk saling berkomunikasi serta menyampaikan data-data terkait kekerasan yang dialami perempuan maupun anak-anak. (q cox, Tama Dinie)

Reply