3 Direksinya “Islah”, RPH Pegirikan Surabaya Siap Luncurkan Program Peningkatan Kinerja

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Silang pendapat antar Direksi di lingkungan Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirikan Surabaya telah mendapatkan titik temu (islah). Untuk itu RPH telah siap bekerja dengan sejumlah program baru, terutama antisipasi harga daging di bulan Ramadhan dan jelang Hari raya Idhul Fitri 2018.

Tiga direksi itu adalah Teguh Prihandoko Direktur Utama Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (RPH), Romi Tantyo Wicaksono Direktur Administrasi dan Keuangan, dan Bela Bima Ferial Java Direktur Jasa dan Niaga.

Menurut Rahmad Cahyadi ketua Dewan Pengawas (Dewas) RPH Pegirikan Surabaya, konflik internal yang terjadi di instansinya tidak sebesar yang diberitakan oleh sejumlah media, karena hanya soal penyatuan pendapat dari masing-masing direksi.

“Sebenarnya yang didalam itu tidak sebesar yang dikabarkan di luar, kami melihatnya bukan konflik, tetapi adalah proses penyatuan dalam rangka persamaan pendapat, dan ini memang butuh waktu,” ucapnya kepada sejumlah awak media. Senin (30/4/2018)

Dia mengatakan, RPH adalah perusahaan publik milik pemerintah, maka yang harus menjadi fokus utama adalah pelayanan kepentingan masyarakat yang lebih besar. Oleh karenanya perbedaan pendapat antar direksi harus segera di akhiri, dengan semangat saling memperbaiki.

“Sekarang kita harus membayar mahal atas kejadian sebelumnya dengan semangat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dengan beberapa program dan inovasi,” tuturnya.

Demikian juga dengan 2 staf RPH yang saat ini telah menjadi tahanan Kejaksaan, seluruh direksi dan dewas RPH juga sedang mempelajari kasusnya yang kemudian akan segera dilaporkan kepada pemilik (Pemkot Surabaya/Wali Kota), untuk dimintakan petunjuk soal langkah selanjutnya.

“Termasuk apakah nantinya kami bisa memberikan dukungan pendampingan hukum atau tidak, karena ini BUMD maka kami harus minta petunjuk kepada pemilik (pemkot Surabaya),” Ucap Agus Hendrawan anggota Dewas RPH.

Disaat yang sama, Teguh Prihandoko Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (RPH), menyampaikan permohonan maafnya kepada Pemkot, DPRD dan seluruh masyarakat Kota Surabaya atas fenomena yang terjadi di lingkungan instansinya.

“Sekarang yang kita pikir pelaksanaan program jangka pendek yaitu bagaimana menjaga stabilitas harga daging di bulan ramadhan dan jelang hari raya idhul fitri, disamping beberapa program jangka panjang yang telah kami godog dan siapkan,” katanya.

Menurut alumnus Unair ini, RPH akan mendukung penuh program Pemkot Surabaya soal katahanan pangan yakni menyokong keberadaan daging di sejumlah even operasi pasar murah dan bazar yang diselenggarakan.

“Ini semua kami lakukan dalam rangka menghindari munculnya para spekulan sehingga masyarakat Kota Surabaya lebih tenang, karena stok daging masih sangat cukup, dan juga melakukan kerjasama dengan Kapoktan,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Teguh, RPH telah menyiapkan stok daging sekira 5 sampai 10 ton untuk menyongsong bulan ramadhan dan hari raya indhul fitri. Pasalnya, RPH Pegirikan dalam setiap harinya ada 150 ekor sapi terpotong dan terproses menjadi daging dingin untuk di distrubusikan.

“Tempat kami didukung dengan 2 Cool Storage dengan kapasitas 5 dan 10 ton, serta satu unit mobil pendingin untuk distribusi,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, disisa masa jabatannya sebagai Dirut RPH, Teguh bersama jajaran direksi lainnya juga telah menyiapkan sejumlah inovasi program pelayanan kepada masyarakat diantaranya menambah jam kerja “Rumah Daging”, yang sebelumnya hanya selama jam kerja, kini telah dibuka hingga pukul 9-10 malam.

“Kami juga telah menyiapkan program tempat penjualan daging produk RPH dengan nama “rumah daging” di seluruh seluruh Kecamatan, yang didalamnya akan memberikan kesempatan kepada pihak ketiga untuk turut bekerjasama dan berinvestasi,” imbuhnya.

Demikian juga saat jelang Hari Raya Idhul Adha, masih Teguh, saat ini RPH juga sedang melakukan proses kerjasama dengan beberapa pihak ketiga dalam rangka menyiapkan hewan korban siap jual sekaligus pemotongannya.

“Program penyiapan hewan korban kepada kaum muslim di Surabaya ini memang butuh investasi dengan biaya yang besar, oleh karenanya kami menggandeng pihak ketiga,” tuturnya.

“Keunggulannya, hewan yang kami jual lebih terjamin kesehatannya, harganya juga wajar serta bisa menjaga lingkungan, karena pemotongannya kami arahkan disini juga, kalau di kampung-kampung, maka limbahnya akan mencemari lingkungan di tempat itu,” pungkasnya. (q cox)

Contoh kedai “rumah daging” di seluruh Kecamatan di Surabaya

Reply