Diet Tas Kresek Satu, Bisa Atasi Sampah Kota

Tragedy 9 tahun lalu, tepatnya 21 Pebruari 2005, tumpukan sampah di TPA Sampah Leuwihgajah Bandung longsor. Sekitar 137 rumah di desa Batujajar Timur, Batujajar, Kabupaten Bandung itu tertimbun sampah dan menyebabkan 143 orang tewas tertimbun sampah. Hal ini kemudian diperingati sebagai hari Peduli Sampah.

SURABAYA (SPNews) – Dalam rangka hari Peduli Sampah 2014, Komunitas Nol Sampah bersama karyawan The Body shop, beberapa komunitas seperti Hilo Green Community, Paguyuban Cak dan Ning Surabaya, Gowes tetap Semangat, Bike to Work, GAMAN dan sekolah adiwiyata di Surabaya (SMPN 4 Surabaya dan SMP SAIMS) dan SMAN 1 Driyorejo gresik melakukan aksi kampanye diet tas kresek dengan cara rampok tas kresek di Car free Day Jln Darmo Surabaya.

Rampok Tas Kresek adalah kampanye mengajak warga Surabaya untuk mengurangi pemakaian tas kresek (diet Tas Kresek). Setiap pengunjung pasar yang memakai tas kresek akan didekati oleh relawan, kemudian tas kreseknya diganti dengan tas kain yang bisa dipakai berulangkali. Selama proses penukaran tas, relawan melakukan eduksi mengapa kita harus diet tas kresek.

Relawan akan menjelaskan Dosa-Dosa Tas Kresek yang berisi tentang ampak tas kresek terhadap lingkungan hidup, seperti butuh ratusan tahun untuk bisa terurai di alam, dan jutaan biota mati karena terlilit atau menelan tas kresek.

Selain itu juga dijelaskan tentang bahaya tas kresek bagi kesehatan manusia, karena jika dibakar akan menghasilkan gas dioksin yang dapat menyebabkan kanker, dan ada peringatan dari Badan POM tanggal 14 Juli 2009 agar hati-hati menggunakan tas kresek berwarna (hitam) ebagai kemasan makanan/ minuman langsung karena jenis plastik dan pewarna tekstil yang digunakan dapat menyebabkan kanker dan impotensi.

Mengapa isu yang dipilih tentang Diet tas kresek, karena faktanya sampah plastik di Surabaya dari tahun ke tahun terus meningkat. Yulinah Trihadiningrum, Dosen Teknik Lingkungan ITS, menyebutkan berdasarkan beberapa penelitian disebutkan sampah plastik di Surabaya tahun 1988 hanya 5,6% dari total sampah di Surabaya.

Tahun 2006 meningkat menjadi 10,1% dan tahun 2010 meningkat menjadi 12,4%. Meskipun hanya 12,4% dari sampah di Surabaya, namun karena berat jenisnya yang rendah volume sampah plastik membutuhkan ruang 25-35%. Dan sampah plastik butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai, sehingga tumpukan sampah yang dominan di TPA Benowo adalah sampah plastik.

Berdasarkan kajian Greeneration Indonesia (2010), satu orang di Indonesia menghasilkan 700 sampah tas kresek per tahun. Dengan penduduk 3 juta jiwa, maka sampah tas kresek di Surabaya mencapai 2,1 milyar. Jumlah yang sangat fantastik dan jumlah itu akan terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat kota.

Terbukti, sampah tas kresek tersebut terlihat menumpuk di kawasan hutan mangrove dan “ membunuh” ribuan anak mangrive yang baru tubuh atau baru ditanam. Bukti lain, jerapah satu-satunya koleksi Kebun Binatang Surabaya mati dan ketika dibedah dalam lambungnya ditemukan 20 kg tas kresek.

Jenna Jambeck dari University of Georgia Amerika Serikat  menyebutkan Hasil temuan terbaru bahwa pada tahun 2010 saja ada sekitar 4,8 juta hingga 12,7 juta metrik ton sampah yang masuk ke lautan. Indonesia menduduki peringkat kedua penyumbang terbanyak sampah plastik ke laut yaitu 3,4 juta Ton. Cina menduduki peringkat pertama yaitu 8.8 juta ton, oleh karena itu pada peringatan hari Peduli Sampah 2014 ini, kami mengajak warga, khususnya kota Surabaya untuk diet tas kresek, salah satu caranya dengan memakai tas kain yang bisa dipakai berulangkali. Kampanye diet tas kresek ini akan terus kami lakukan.

Disisi lain kami akan mendorong Pansus Raperda Pengolahan Sampah DPRD Kota Surabaya agar dalam mengatur tentang pembatasan/larangan pemakaian tas kresek, terutama untuk kegiatan retail. Kami juga mendorong dalam perda pengolahan sampah diatur mengenai Sampah kian menjadi masalah, terutama di perkotaan padat penduduk seperti Jakarta. Ini persoalan sampah terletak pada banyaknya jenis sampah yang sulit hancur (sampah anorganik), misalnya plastik.

Dan hambatan terbesar daur-ulang sampah terjadi karena banyak produk tak dirancang untuk dapat didaur-ulang ketika sudah jadi sampah. Ini salah satunya karena para produsen hanya tidak mendapat insentif ekonomi yang menarik untuk melakukannya Perluasan Tanggung Jawab Produsen (Extended Producer Responsibility – EPR) yaitu suatu pendekatan kebijakan yang meminta produsen menggunakan kembali produk-produk dan kemasannya.

EPR adalah konsep yang didesain untuk mengintegrasikan biaya-biaya lingkungan kedalam proses produksi suatu barang sampai produk ini tidak dapat dipakai lagi, sehingga biaya lingkungan menjadi komponen harga pasar produk tersebut.

EPR mewajibkan para produsen untuk bertanggungjawab terhadap seluruh siklus produk dan kemasan dari produk yang mereka hasilkan. Perusahaan yang menjual produk dan kemasan yang berpotensi menghasilkan sampah wajib bertanggung jawab baik secara financial maupun fisik, pada produk dan kemasan yang masa pakainya sudah usai. (q cox, KJPL)

Reply