Dua Partai Pendukung Gus Ipul-Puti Sambut Baik Deklarasi Kampanye Damai

SURABAYA (Suarapubliknews.net) – Bawaslu Jatim akan menggelar acara deklarasi kampanye damai yang sedianya bakal dilaksanakan di Hotel Majapahit pada hari Minggu (18/2/2018)

Ketua DPW PKS Jatim Arif Hari Setiawan menyambut baik deklarasi kampanye damai, karena dengan komitmen itu, masing-masing pasangan calon bisa berkontestasi secara sehat dalam Pilgub Jatim 2018.

“Kami menyambut baik, apalagi Gus Ipul dan Mbak Puti berkomitmen berdemokrasi yang berkeadaban dan damai,” katanya. Jumat (15/2/2018).

Menurut dia, komitmen bersama ini cukup bagus. Deklarasi itu menjadi modal untuk meminimalisir adanya konflik yang berlatar pada isu-isu negatif.

“Kalau di Jawa Timur potensi isu SARA itu bisa dijaga, apalagi calonnya ini sama-sama dari NU sedangkan isu gender itu sudah selesai, mungkin yang masih itu di masyarakat,” ungkapnya.

Arif mengaku sudah melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang sangat sensitif, terutama isu gender. Langkah penyadaran ini tentu agar masyarakat bisa memilih dengan cerdas, memilih pemimpin karena kualitas dan integritas dari pasangan calon.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur Hendro Tri Subiyantoro mengaku telah berkomitmen untuk menghindari isu SARA, gender dan black campaign dalam strategi pemenangan.

“Kita komitmen dengan derklarasi pilkada damai majapahit,” tegasnya saat dikonfirmasi melalui sambungan selulernya.

Menurutnya, pesta demokrasi adalah sebagai sarana memilih pemimpin yang terbaik untuk kepentingan masyarakat, bukan menjadi ajang klaim kebenaran, atau klaim dogmatis yang menyinggung kelompok tertentu. “Isu gender di masyarakat sudah tidak sensitif,” ungkap Hendro.

Dia menjelaskan, masyarakat saat ini sudah terbuka terhadap persoalan politik. Sehingga kondisi ini memungkinkan masyarakat memilih secara dewasa dan cerdas.

“Cuma kita memang masih ada sebagian kelompok masyarakat yang memiliki prinsip dogmatis dalam kaidah agama, pemimpin itu laki-laki, kita bisa menghormati itu, tapi itu jangan dijadikan alat menyerang karena belum tentu kelompok lain memiliki dogma yag sama, di Bhinneka inilah kita saling menghormati,” pungkasnya. (q cox)

Reply